kepada para malaikat: “Sujudlah!” Lantas mereka bersuci dari ketidak-sucian klaim “dan kami…” dengan air uzur di bejana pengakuan “tak ada pengetahuan pada kami”, sehingga mereka bersujud dalam kesucian kepasrahan. Iblis, bagaimanapun, berdiri menjauh dan tidak ikut bersujud, karena ia memang kotor; ia telah berlumur najis penentangan dan kenajisannya tak dapat dihilangkan dengan penyucian, sebab ia bersifat bawaan.
Tatkala kesempurnaan Adam genap, dikatakan: “Mesti ada tahi lalat keelokan pada wajah perintah ‘Sujudlah’,” maka takdir pun berjalan melalui dosa agar tampak bekas penghambaan dalam kerendahan.
Wahai Adam! Andaikata suapan itu diampuni bagimu, para pendengki akan berkata, “Bagaimana mungkin diutamakan seorang yang rakus, yang tak sanggup menahan diri dari sebatang pohon?!”
Seandainya engkau tidak turun, helaan napas yang naik takkan terangkat, pesan “adakah yang meminta?” (1) takkan turun, dan semerbak “dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa…” (2) takkan merebak; nyatalah saat itu bahwa pengambilan itu bukanlah karena kerakusan.
Wahai Adam! Tawamu di surga untukmu, sedangkan tangismu di negeri taklif untuk Kami.
Tiada mudarat bagi siapa pun yang Kupecahkan dengan keagungan-Ku bila Kuperbaiki dengan karunia-Ku. Hanya tubuh yang remuk pantas mengenakan busana kemuliaan; Aku bersama orang-orang yang hatinya hancur karena-Ku (3).
Gigitan itu terus menandinginya sampai penyakitnya merambat kepada anak-anaknya, maka Dia pun mengutus