Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

kepada para malaikat: “Sujudlah!” Lantas mereka bersuci dari ketidak-sucian klaim “dan kami…” dengan air uzur di bejana pengakuan “tak ada pengetahuan pada kami”, sehingga mereka bersujud dalam kesucian kepasrahan. Iblis, bagaimanapun, berdiri menjauh dan tidak ikut bersujud, karena ia memang kotor; ia telah berlumur najis penentangan dan kenajisannya tak dapat dihilangkan dengan penyucian, sebab ia bersifat bawaan.

Tatkala kesempurnaan Adam genap, dikatakan: “Mesti ada tahi lalat keelokan pada wajah perintah ‘Sujudlah’,” maka takdir pun berjalan melalui dosa agar tampak bekas penghambaan dalam kerendahan.

Wahai Adam! Andaikata suapan itu diampuni bagimu, para pendengki akan berkata, “Bagaimana mungkin diutamakan seorang yang rakus, yang tak sanggup menahan diri dari sebatang pohon?!”

Seandainya engkau tidak turun, helaan napas yang naik takkan terangkat, pesan “adakah yang meminta?” (1) takkan turun, dan semerbak “dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa…” (2) takkan merebak; nyatalah saat itu bahwa pengambilan itu bukanlah karena kerakusan.

Wahai Adam! Tawamu di surga untukmu, sedangkan tangismu di negeri taklif untuk Kami.

Tiada mudarat bagi siapa pun yang Kupecahkan dengan keagungan-Ku bila Kuperbaiki dengan karunia-Ku. Hanya tubuh yang remuk pantas mengenakan busana kemuliaan; Aku bersama orang-orang yang hatinya hancur karena-Ku (3).

Gigitan itu terus menandinginya sampai penyakitnya merambat kepada anak-anaknya, maka Dia pun mengutus

(1) Potongan dari hadis tentang turunnya (Allah ke langit dunia), hadis ini mutawatir; diriwayatkan oleh al-Bukhari (1145) dan Muslim (758) dari Abu Hurairah. (2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1894) dan Muslim (1151) dari Abu Hurairah tentang keutamaan puasa. (3) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Kitab az-Zuhd (hlm. 95) dan Abu Nu‘aim dalam Hilyah (6/177) dari ‘Imrân al-Qashîr bahwa Musa ‘alaihis salâm berkata: “Wahai Rabb, di mana aku dapat menemukan-Mu?” Maka Allah Ta‘ala berfirman: “Aku berada di sisi orang yang hatinya hancur …”
الملائكةِ ينادي: ﴿اسْجُدُوا﴾، فتطهَّروا من حَدَثِ دعوى ﴿وَنَحْنُ﴾ [البقرة: ٣٠] بماء العذر في آنية ﴿لَا عِلْمَ لَنَا﴾ [البقرة: ٣٢]، فسجدوا على طهارة التسليم. وقام إبليسُ ناحيةً لم يَسجُدْ؛ لأنَّه خَبَثٌ، وقد تلوَّثَ بنجاسة الاعتراض، وما كانتْ نجاستُه تُتلافىَ بالتطهير؛ لأنَّها عينيةٌ. فلما تمَّ كمالُ آدم قيل: لا بُدَّ من خالِ جمالٍ على وجهِ ﴿اسْجُدُوا﴾، فجرى القدرُ بالذِّنْبِ؛ ليتبيَّنَ أثرُ العبوديَّةِ في الذُّلِّ. يا آدمُ! لو عُفِيَ لك عن تلك اللُّقْمَةِ لقال الحاسدونَ: كيف فُضِّلَ ذو شَرَهٍ لم يَصبِرْ على شجرة؟! لولا نزولُك ما تصاعدتْ صُعداءُ الأنفاس، ولا نزلتْ رسائلُ "هل من سائلٍ" (١)، ولا فاحتْ روائحُ "ولخُلُوفُ فمِ الصَّائمِ" (٢)؛ فتبيَّنَ حينئذٍ أنَّ ذلك التناول لم يكنْ عن شرَهٍ. يا آدمُ! ضَحِكُك في الجنةِ لك، وبكاؤُك في دارِ التكليف لنا. ما ضُرَّ مَن كَسرَهُ عزِّي إذا جَبَرَهُ فَضْلي. إنما تليقُ خِلْعَةُ العِزِّ ببدنِ الانكسارِ. أنا عند المنكسرةِ قلوبُهم من أجلي (٣). ما زالتْ تلك الأكْلةُ تُعادُّه حتى استولى داؤه على أولادِهِ، فأرسلَ
(١) قطعة من حديث النزول، وهو متواتر، وأخرجه البخاري (١١٤٥) ومسلم (٧٥٨) عن أبي هريرة. (٢) أخرجه البخاري (١٨٩٤) ومسلم (١١٥١) عن أبي هريرة في فضل الصيام. (٣) أخرج أحمد في الزهد (ص ٩٥) وأبو نعيم في الحلية (٦/ ١٧٧) عن عمران القصير أن موسى ﵇ قال: أي ربّ! أين أجدك؟ فقال تعالى: "أنا عند المنكسرة … ".

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie