al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Ibnu Taimiyah berkata: “Hukum asal dalam masalah ini adalah halal bagi seorang Muslim yang beramal saleh, karena Allah Ta‘ala hanya menghalalkan sesuatu yang baik untuk dijadikan sarana ketaatan kepada-Nya, bukan untuk bermaksiat kepada-Nya; sebagaimana firman-Nya, ‘Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh terhadap apa yang mereka makan.’ Oleh karena itu, tidak boleh memanfaatkan perkara mubah untuk perbuatan maksiat; seperti orang yang memberikan daging dan roti kepada seseorang lalu ia gunakannya untuk minum khamar dan melakukan perbuatan keji. Barang siapa memakan yang baik-baik namun tidak bersyukur, maka ia tercela. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kemudian sungguh pada hari itu kalian akan ditanya tentang nikmat,’ yakni tentang syukur atasnya.” Selesai.

Allah Ta‘ala menghalalkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman segala yang baik agar mereka mengambil manfaat darinya. Dia berfirman, ‘Mereka bertanya kepadamu apa yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah, “Dihalalkan bagi kalian segala yang baik.”’

Allah juga telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya apa saja yang Dia haramkan atas mereka berupa makanan dan minuman; Dia berfirman, ‘Dan sungguh Dia telah merincikan bagi kalian apa yang Dia haramkan atas kalian, kecuali apa yang kalian terpaksa melakukannya.’ Maka apa pun yang tidak disebutkan keharamannya adalah halal.

Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban; maka jangan kalian sia-siakan. Dia telah menetapkan beberapa batasan; maka jangan kalian langgar. Dia telah mengharamkan beberapa perkara; maka jangan kalian melanggarnya. Dan Dia diam terhadap beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa; maka jangan kalian mencari-cari tentangnya.” An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis hasan, diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan yang lainnya.”]

قال شيخ الإسلام ابن تيمية: "الأصل فيها الحل لمسلم عمل صالحا؛ لأن الله تعالى إنما أحل الطيبات لمن يستعين بها على طاعته، ولا على معصيته؛ لقوله تعالى: ﴿لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا﴾ ، ولهذا لا يجوز أن يستعان بالمباح على المعصية؛ كمن يعطي اللحم والخبز من يشرب عليه الخمر ويستعين به على الفواحش، ومن أكل الطيبات ولم يشكر؛ فمذموم، قال تعالى: ﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾ ؛ أي: عن الشكر عليه" انتهى. فالله تعالى أباح لعباده المؤمنين الطيبات لكي ينتفعوا بها، وقال تعالى: ﴿يَسْأَلونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ﴾ . وقد بين الله لعباده ما حرمه عليهم من المطاعم والمشارب: قال تعالى: ﴿وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْه﴾ ، فما لم يبين تحريمه؛ فهو حلال. قال النبي صلى الله عليه وسل: "إن الله فرض فرائض؛ فلا تضيعوها، وحد حدودًا؛ فلا تعتدوها، وحرم أشياء؛ فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمة لكم من غير نسيان؛ فلا تبحثوا عنها" قال النووي ﵀: "حديث حسن، رواه الدارقطني وغيره".

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie