al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Dan cara berlangsungnya pencurian memiliki sejumlah sifat khusus yang sudah tercakup dalam definisi di atas; apabila salah satu sifat itu tidak terpenuhi, hukuman potong tangan gugur. Sifat-sifat tersebut ialah:

  1. Pengambilan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Jika tidak secara sembunyi-sembunyi, maka tidak ada pemotongan; seperti ketika harta dirampas secara terang-terangan dengan kekuatan dan paksaan di hadapan orang banyak, atau digasāb (dirampas paksa), karena pada saat seperti itu pemilik harta masih bisa meminta pertolongan dan menahan pelaku kezaliman.
    Imam Ibnul-Qayyim berkata, “Yang dipotong hanyalah tangan pencuri, bukan perampas terang-terangan (muntahib) atau perampas paksa (ghāṣib); sebab perbuatan mereka masih mungkin dicegah. Adapun pencuri, ia membobol rumah, merusak tempat penyimpanan, dan memecah gembok. Seandainya tidak disyariatkan pemotongan tangan untuknya, niscaya manusia akan saling memakan, kerusakan membesar, dan bencana kian berat.”
    Penulis kitab Al-Ifṣāḥ menambahkan, “Para ulama sepakat bahwa terhadap pencopet (mukhtalis), perampas terang-terangan (muntahib), dan perampas paksa (ghāṣib)—meski kejahatan serta dosa mereka besar—tidak diterapkan hukuman potong tangan pada seorang pun dari mereka. Kezaliman mereka cukup dikendalikan dengan pukulan, penjeraan, penjara yang lama, dan sanksi yang menakutkan.”
  2. Sifat lain yang mewajibkan potong tangan dalam pencurian adalah: barang yang dicuri harus berupa harta yang terhormat; sebab sesuatu yang bukan harta tidak memiliki kehormatan, seperti alat musik, khamar, babi, dan bangkai. Demikian pula barang yang sebenarnya harta tetapi tidak terhormat karena pemiliknya kafir ḥarbī; maka tidak ada pemotongan, karena darah dan harta kafir ḥarbī tidak terpelihara.
  3. Dan di antara sifat yang harus terpenuhi agar dijatuhkan hukuman potong tangan dalam pencurian adalah bahwa
وكيفية السرقة أوصافا محددة تضمنها هذا التعريف متى اختل وصف منها؛ انتفى القطع، وهذه الأوصاف هي: أن يكون الأخذ على وجه الخفية، فإن لم يكن على وجه الخفية؛ فلا قطع؛ كما لو انتهب المال على وجه الغلبة والقهر على مرأى من الناس، أو اغتصبه؛ لأن صاحب المال حينئذ يمكنه طلب النجدة والأخذ على يد الغاشم والغاصب. قال الإمام ابن القيم: "إنما قطع السارق دون المنتهب والمغتصب؛ لأنه لا يمكن التحرز منه؛ فإنه ينقب الدور ويهتك الحرز ويكسر القفل، فلو لم يشرع قطعه؛ لشرق الناس بعضهم بعضا، وعظم الضرر، واشتدت المحنة" انتهى. وقال صاحب "الإفصاح": "اتفقوا على أن المختلس والمنتهب والغاصب على عظم جنايتهم وآثامهم لا قطع على واحد منهم، ويسوع كف عدوان هؤلاء بالضرب والنكال والسجن الطويل والعقوبة الرادعة". ومن الأوصاف التي توجب القطع في السرقة: أن يكون المسروق مالاً محترما؛ لأن ما ليس بمال لا حرمة له؛ كآلة اللهو والخمر والخنزير والميتة، وما كان مالاً، لكنه غير محترم، لكون مالكه كافرًا حربيا؛ فلا قطع فيه؛ لأن الكافر الحربي حلال الدم والمال. ومن الأوصاف التي يجب توافرها في القطع في السرقة: أن يكون

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie