al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Apabila anak laki-laki yang berakal memilih ayahnya, ia pun tinggal bersama ayahnya siang dan malam agar sang ayah dapat menjaganya, mengajarinya, dan mendidiknya. Meski demikian, ia tidak boleh dilarang berkunjung kepada ibunya, karena larangan semacam itu hanya akan membiasakannya durhaka dan memutus tali kekerabatan. Jika ia memilih ibunya, maka ia bermalam di rumah ibunya dan pada siang hari bersama ayahnya agar sang ayah tetap dapat mengajarinya dan mendidiknya. Bila ia tidak menentukan pilihan kepada salah satu dari keduanya, maka dilakukan undian di antara keduanya, karena tidak ada keutamaan bagi salah satunya atas yang lain kecuali melalui undian.

Adapun anak perempuan, apabila mencapai usia tujuh tahun, ia berada di bawah asuhan ayahnya hingga diserahkan kepada suaminya. Hal ini karena ayah lebih mampu menjaganya dan lebih berhak menjadi walinya daripada selainnya. Ibu tidak boleh dihalangi untuk menemuinya selama tidak ada bahaya. Jika ayah tidak sanggup menjaga putrinya—entah karena kesibukannya, kurangnya perhatian, atau lemahnya agama—sedangkan ibu mampu memeliharanya, maka hak asuh berpindah kepada ibunya.

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Imam Ahmad dan para muridnya mendahulukan ayah selama hal itu tidak membawa mudarat bagi anak. Bila ternyata ayah tidak mampu menjaga dan melindunginya, atau ia menelantarkannya karena kesibukan, sedangkan ibu sanggup menjaga dan melindunginya, maka dalam keadaan seperti ini ibu didahulukan. Apabila terbukti adanya kerusakan di pihak salah satunya, maka pihak yang lain lebih berhak tanpa ragu.”

Beliau juga berkata, “Apabila ayah menikah lagi, lalu meninggalkan anaknya di rumah istri baru yang memusuhi ibu kandungnya, tidak mengurus kepentingan anak, bahkan menyakitinya dan menelantarkan kebutuhannya, sementara ibu kandungnya memperhatikan kemaslahatannya dan tidak menyakitinya, maka hak asuh dalam keadaan ini sepenuhnya berada pada ibu.” Selesai. Wallāhu a‘lam.

وإذا اختار الغلام العاقل أباه؛ صار عنده ليلاً ونهارًا؛ ليحفظه ويعلمه ويؤدبه، لكن لا يمنعه من زيادة أمه؛ لأن منعه من ذلك تنشئة له على العقوق وقطيعة الرحم، وإن اختار أمه؛ صار عندها ليلاً وعند أبيه نهارًا؛ ليعلمه ويؤدبه، وإن لم يخبر واحدًا منهما؛ أقرع بينهما؛ لأنه لا مزية لأحدهما على الآخر إلا بالقرعة. والأنثى إذا بلغت سبع سنين؛ فإنها تكون عند أبيها إلى أن يتسلمها زوجها؛ لأنه أحفظ لها وأحق بولايتها من غيره، ولا تمنع الأم من زيارتها مع عدم المحذور، ف فن كان الأب عاجزًا عن حفظ البنت أو لا يبالي بها لشغله أو لقلة دينه، والأم تصلح لحفظها؛ فإنها تكون عند أمها. قال شيخ الإسلام ابن تيمية ﵀: "وأحمد وأصحابه إنما يقدمون الأب إذا لم يكن عليها في ذلك ضرر، فلو قدر أنه عاجز عن حفظها وصيانتها، ويهملها لاشتغاله عنها، والأم قائمة بحفظها وصيانتها؛ فإنها تقدم في هذه الحال، فمع وجود فساد أمرها مع أحدهما؛ فالآخر أولى بها بلا ريب". وقال ﵀: "وإذا قدر أن الأب تزوج بضرة، وهو يتركها عند ضرة أمها، لا تعمل مصلحتها، بل تؤذيها وتقصر في مصلحتها، وأمها تعمل مصلحتها ولا تؤذيها؛ فالحضانة هنا للأم قطع ا" انتهى، والله أعلم.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie