al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Dan apabila susu sampai ke dalam lambung bayi bukan melalui proses menyusu, maka hukumnya sama dengan susuan; seperti apabila susu itu diteteskan ke dalam mulut atau hidungnya, atau ia meminumnya dari suatu wadah dan semisalnya, maka kejadian itu dihukumi susuan karena tercapai fungsi pemberian gizi, dengan syarat hal itu terjadi sebanyak lima kali.

Adapun keharaman yang timbul karena susuan: apabila seorang wanita menyusui seorang anak di bawah usia dua tahun sebanyak lima kali atau lebih, maka anak yang disusui itu menjadi anaknya dalam hal haramnya pernikahan dengannya, bolehnya memandang auratnya, dan boleh berkhalwat dengannya; ia pun menjadi mahramnya; berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “…dan ibu-ibu kalian yang menyusui kalian.” Namun ia tidak menjadi anaknya dalam hukum-hukum lain: tidak wajib baginya memberi nafkah, tidak ada saling waris, ia tidak menanggung diyatnya, dan tidak pula menjadi walinya; sebab nasab lebih kuat daripada susuan, maka susuan tidak menyamainya kecuali pada perkara yang dinyatakan secara nash, yaitu pengharaman nikah serta cabang-cabangnya berupa mahramiyah dan kebolehan berkhalwat.

Anak yang disusui itu juga menjadi anak bagi orang yang kepadanya dinisbahkan susu tersebut—baik karena ia hamil darinya, atau karena ia digauli dengan nikah sah ataupun syubhat—karena nasab janin pada keadaan-keadaan tersebut kembali kepadanya, sedangkan susuan merupakan cabangnya. Maka anak yang disusui menjadi anak baginya hanya dalam hukum-hukum yang disebutkan pada hak ibu susuan, yaitu pengharaman nikah, kebolehan memandang, berkhalwat, dan mahramiyah, tanpa hukum-hukum lainnya.

Para mahram orang yang kepadanya dinisbahkan susu—seperti ayah-ayahnya, anak-anaknya, ibu-ibunya, kakek-neneknya, saudara-saudara kandungnya, anak-anak mereka, paman-paman dan bibi-bibinya dari pihak ayah maupun ibu—semuanya menjadi mahram bagi anak yang disusui. Demikian pula para mahram ibu susuan—seperti ayahnya, anak-anaknya, ibunya, saudara perempuannya, paman-pamannya, dan selain mereka—juga menjadi mahram bagi anak yang disusui.

Dan sebagaimana keharaman itu berlaku atas anak yang disusui, ia pun menjalar kepada keturunannya …]

ولو وصل اللبن إلى جوف الطفل بغير الرضاع؛ له حكم الرضاع؛ كما لو قطر في فمه أو أنفه، أو شربه من إناء ونحوه؛ أخذ ذلك حكم الرضاع؛ لأنه يحصل به ما يحصل من التغذية؛ بشرط أن يحصل من ذلك خمس مرات. وأما ما ينشره الرضاع من الحرمة: فمتى أرضعت امرأة طفلاً دون الحولين خمس رضعات فأكثر؛ صار المرتضع ولدها في تحريم نكاحها عليه وفي إباحة نظره إليها وخلوته بها، ويكون محرما لها؛ لقوله تعالى: ﴿وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ﴾ ، ولا يكون ولدًا لها في بقية الأحكام؛ فلا تجب نفقتها عليه، ولا توارث بينهما، ولا يعقل عنها، ولا يكون ولي الها؛ لأن النسب أقوى من الرضاع؛ فلا يساويه إلا فيما ورد فيه النص، وهو التحريم، وما يتفرغ عليه من المحرمية والخلوة. ويصير المرتضع ولدًا لمن ينسب لبنها إليه بسبب حملها منه، أو بسبب وطئه لها بنكاح أو شبهه؛ للحوق نسب الحمل به في تلك الأحوال والرضاع فرع عنه، فيكون المرتضع ولدًا له في الأحكام المذكورة في حق المرضعة فقط، وهي تحريم النكاح وجواز النظر والخلوة والمحرمية دون بقية الأحكام. وتكون محارم من نسب إليه اللبن كآبائه وأولاده وأمهاته وأجداده وجداته وإخوته وأخواته وأولادهم وأعمامه وعماته وأخواله وخالاته يكونون محارم للمرتضع، وتكون محارم المرضعة كآبائها وأولادها وأمهاتها وأخواتها وأعمامها ونحوهم محارم للمرتضع. وكما تثبت الحرمة على المرتضع تنتشر كذلك على فروعة من

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie