al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Syarat pertama: harus ada lima kali susuan atau lebih; berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata, “Di dalam Al-Qur’an pernah turun (ayat): ‘Sepuluh kali susuan yang diketahui (jumlahnya) mengharamkan (pernikahan)’, lalu dihapus menjadi lima kali susuan, dan jadilah ‘lima kali susuan yang diketahui mengharamkan’. Rasulullah ﷺ wafat sementara hukum masih seperti itu.” Diriwayatkan oleh Muslim. Ini termasuk nasakh tilawah tanpa menghapus hukumnya, dan hadits ini menjelaskan hal yang masih global dalam ayat maupun hadits-hadits tentang susuan.

Syarat kedua: kelima susuan itu harus terjadi dalam dua tahun pertama; berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi siapa yang ingin menyempurnakan penyusuan.” Ayat mulia ini menunjukkan bahwa susuan yang diperhitungkan hanyalah yang terjadi dalam dua tahun tersebut. Juga sabda Nabi ﷺ, “Tidak haram karena susuan kecuali yang membelah usus dan terjadi sebelum masa penyapihan,” hadits hasan sahih menurut at-Tirmidzi. Maksudnya: tidak timbul keharaman kecuali susu yang benar-benar sampai ke usus dan meluaskannya; maka sedikit susu yang tidak sampai ke sana dan tidak meluaskannya tidak menimbulkan keharaman. Demikian pula susuan yang terjadi setelah masa penyapihan—yakni di luar masa bayi—tidak menimbulkan keharaman. Yang menetapkan keharaman hanyalah susuan saat anak masih bayi, ketika susu itu menghilangkan laparnya dan menumbuhkan dagingnya, sehingga menjadi bagian dari dirinya.

Batasan satu kali susuan ialah: bayi mengisap payudara, kemudian terputus isapannya—karena bernapas, berpindah dari satu payudara ke payudara lain, atau sebab lain—maka itu dihitung satu kali susuan. Jika ia kembali mengisap, terhitung dua kali susuan, dan seterusnya, meskipun masih dalam satu majelis. Sebab, syariat menetapkan jumlah susuan tetapi tidak mendefinisikan satuannya; maka penentuannya dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan).]

الشرط الأول: أن يكون خمس رضعات فأكثر؛ لحديث عائشة ﵂ قالت: "أنزل في القرآن: عشر رضعات معلومات يحرمن، فنسخ من ذلك خمس رضعات، وصار إلى خمس رضعات معلومات يحرمن، فتوفي رسول الله ﷺ والأمر على ذلك"، رواه مسلم، وهذا من نسخ التلاوة دون الحكم، وهو مبين لما أجمل في الآية والأحاديث في موضوع الرضاع. الشرط الثاني: أن تكون خمس الرضعات في الح ولين؛ لق وله تعالى: ﴿وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ﴾ ؛ فدلت هذه الآية الكريمة على أن الرضاع المعتبر ما كان في الحولين، ولقوله ﷺ: "لا يحرم من الرضاع إلا ما فتق الأمعاء وكان قبل الفطام"، قال الترمذي: "حديث حسن صحيح"، ومعناه: أنه لا يحرم من الرضاع إلا ما وصل إلى الأمعاء ووسعها؛ فلا يحرم القليل الذي لم إليها ويوسعها، ولا يحرم إلا ما كان قبل الفطام؛ أي: ما كان في زمن الصغر، وقام مقام الغذاء؛ فالذي يثبت الحرمة حيث يكون الرضيع طفلاً يسد اللبن جوعه وينبت لحمه، فيكون ذلك جرءًا منه. وحدّ الرضعة: أن يمتص الثدي ثم يقطع امتصاصه لتنفس أو انتقال من ثدي لآخر أو لغير ذلك؛ فيحتسب له بذلك رضعة، فإن عاد؛ فرضعتان ... وهكذا، ولو في مجلس واحد، وذلك لأن الشارع اعتبر عدد الرضعات ولم يحدد الرضعة، فيرجع في تحديدها إلى العرف.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie