al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Allah dan takdir-Nya. Maka Allah, dengan hukum-Nya, membatalkan adat Jahiliyah itu dan menggantikannya dengan kesabaran serta pujian kepada-Nya.

Karena musibah kematian niscaya melahirkan pada orang yang tertimpa kegelisahan, rasa sakit, dan kesedihan sebagaimana dituntut oleh tabiat manusia, Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui memberi kelonggaran pada sedikit luapan itu—yakni bagi selain istri, selama tiga hari—agar ia memperoleh semacam ketenteraman dan menunaikan sebagian kesedihannya; adapun selebihnya, mudaratnya lebih dominan sehingga dilarang.

Maksudnya, syariat membolehkan mereka berkabung (iḥdād) atas orang yang wafat selain suami selama tiga hari. Adapun berkabung atas (kematian) suami, ia bergantung pada masa iddah yang dihitung dengan bulan. Bagi wanita hamil, begitu kandungannya usai, gugurlah kewajiban berkabung; disebutkan bahwa berkabung itu berlanjut sampai ia melahirkan, karena ia termasuk konsekuensi iddah. Oleh sebab itu berkabung dibatasi lamanya setara iddah; ia merupakan salah satu hukum iddah dan kewajiban yang melekat padanya—ada bersamanya ketika iddah ada, hilang bersamanya ketika iddah hilang…

Beliau rahimahullah melanjutkan: “Berkabung merupakan tuntutan dan penyempurna iddah. Seorang wanita berhias hanya untuk menarik hati suaminya; maka bila suaminya wafat sementara ia belum menjadi milik laki-laki lain, penyempurnaan hak suami pertama dan penegasan larangan terhadap suami kedua sebelum habis masa yang ditentukan menuntut agar ia meninggalkan apa yang biasa dilakukan wanita untuk suami mereka. Di dalamnya juga terdapat penutupan jalan agar ia tidak berhasrat kepada para lelaki dan para lelaki pun tidak berhasrat kepadanya karena perhiasan.” Selesai perkataan beliau.

Karena itu, wanita yang beriddah karena wafat suaminya wajib, dalam masa berkabung ini, menjauhi segala bentuk berhias pada tubuh—seperti memperindah diri dengan pewarna, pacar, dan semisalnya—serta menjauhi mengenakan

الرب وأقداره، فأبطل الله بحكمه سنة الجاهلية، وأبدلنا به الصب والحمد. ولما كانت مصيبة الموت لا بد أن تحدث للمصاب من الجزع والألم والحزن ما تقاضاه الطباع؛ سمع لها الحكيم الخبير في اليسير من ذلك [يعني: لغير الزوجة، وهو ثلاثة أيام] ؛ تجد بها نوع راحة، وتقضي بها وطرًا من الحزن، وما زاد؛ فمفسدته راجحة، فمنع منه. والمقصود أنه أباح لهن الإحداد على موتاهن ثلاثة أيام، وأما الإحداد على الزوج؛ فإنه تابع للعدة بالشهور، الحامل؛ فإذا انقضى حملها؛ سقط وجوب الإحداد، وذكر أنه يستمر إلى حين الوضع؛ فإنه من توابع العدة، ولهذا قيد بمدتها، وهو حكم من أحكام العدة، وواجب من وجباتها، فكان معها وجودًا وعدما ... ". إلى أن قال: "وهو من مقتضياتها ومكملاتها، وهي إنما تحتاج إلى التزين لتتحبب إلى زوجها، فإذا مات وهي لم تصل إلى آخر؛ اقتضى تمام حق الأول وتأكيد المنع من الثاني قبل بلوغ الكتاب أجله: أن تمنع مما تصنعه النساء لأزواجهن، مع ما في ذلك من سد الذريعة إلى طمعها في الرجال وطمعهم فيها بالزينة" انتهى كلامه ﵀. فيجب على المعتدة من الوفاء في هذا الإحداد أن تجتنب عمل الزينة في بدنها بالتحسين بالأصباغ والخضاب ونحوه، وتتجنب لبس

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie