al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Adapun batas maksimal kehamilan masih diperselisihkan para ulama. Pendapat yang lebih kuat mengembalikannya kepada fakta yang terbukti. Al-Muwaffaq Ibnu Qudâmah berkata, “Hal yang tidak ada nashnya dikembalikan kepada realita; dan telah ditemukan kehamilan yang berlangsung sampai lima tahun, bahkan lebih.”

Kebanyakan masa kehamilan adalah sembilan bulan karena mayoritas perempuan melahirkan pada rentang waktu itu; maka itulah yang dijadikan ukuran umum.

Janin memiliki kehormatan dalam syariat Islam; karena itu, tidak boleh diserang atau dibahayakan. Jika ia gugur dalam keadaan ruh telah ditiupkan lalu meninggal akibat suatu penganiayaan, maka wajib dibayar denda jiwa dan tebusan. Bila seorang wanita hamil harus menjalani hukuman had—cambuk atau rajam—pelaksanaannya ditunda sampai ia melahirkan. Sang ibu juga tidak boleh menggugurkannya dengan meminum obat atau cara lain.

Semua ini menunjukkan kelengkapan syariat ini: ia memperhatikan bahkan janin di dalam rahim dan menempatkannya pada posisi terhormat. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, atas syariat yang sempurna lagi adil ini. Kami memohon kepada-Nya agar menganugerahi kami keteguhan untuk berpegang teguh padanya dan mengamalkan hukumnya dengan tulus karena-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.

Seorang istri yang ditinggal mati suaminya dan tidak hamil beriddah selama empat bulan sepuluh hari, baik suaminya wafat sebelum terjadinya hubungan atau sesudahnya, dan baik sang istri termasuk perempuan yang lazim digauli ataupun tidak. Hal itu berdasar keumuman firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang di antara kalian yang meninggal dunia dan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu menahan diri selama empat bulan sepuluh hari.”

Al-‘Allâmah Ibnu Al-Qayyim berkata, “Iddah karena wafat wajib disebabkan kematian, baik suami telah berhubungan dengan istrinya maupun belum, berdasarkan keumuman Al-Qur’an, Sunnah, dan kesepakatan umat. Bukanlah maksud dari iddah kematian

وأما أكثر مدة الحمل؛ فموضع خلاف بين أهل العلم، والراجح أنه يرجع فيه إلى الوجود؛ قال الموفق ابن قدامة: "ما لا نص فيه، يرجع فيه إلى الوجود، وقد وجد لخمس سنين وأكثر". وغالب مدة الحمل تسعة أشهر؛ لأن غالب النساء يلدن فيها؛ فاعتبر ذلك. هذا وللحمل حرمة في الشريعة الإسلامية؛ فلا يجوز الاعتداء عليه والإضرار به وإذا سقط ميت ابعدما نفخت فيه الروح بسبب الجناية عليه؛ وجبت فيه الدية والكفارة وإذا وجب على الحامل حد شرعي من جلد أو رجم؛ أخر تنفيذ الحد على أمه حتى تلد، ولا يجوز لأمه أن تسقطه بشرب دواء ونحوه. كل ذلك مما يدل على شمول هذه الشريعة، وأنها تراعي حتى الأجنة في البطون، وتجعل لهم حرمة؛ فالحمد لله رب العالمين على هذه الشريعة الكاملة العادلة، ونسأله أن يرزقنا التمسك بها والعمل بأحكامها؛ مخلصين له الدين ولا كره الكافرون. والمتوفى عنها إذا كانت غير حامل؛ تعتد أربعة أشهر وعشرة أيام، سواء كانت وفاته قبل الدخول بها أو بعده، وساء كانت الزوجة ممن يوطأ مثلها أم لا؟، وذلك لعم وم قوله تعالى: ﴿وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً﴾ . قال العلامة ابن القيم: "عدة الوفاة واجبة بالموت، دخل أو لم يدخل بها؛ لعموم القرآن والسنة واتفاق الناس، وليس المقصود من عدة الوفاة

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie