al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

keadaan suami masih hidup; perempuan yang haidnya terhenti dan ia tidak tahu apa penyebabnya; serta istri seorang suami yang hilang.

Berikut penjelasan terperincinya.

  1. Perempuan hamil: ia beriddah sampai melahirkan kandungannya, baik perpisahan itu terjadi selagi suaminya hidup maupun setelah suaminya wafat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala, “Perempuan-perempuan yang hamil, batas iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” Ayat mulia ini menunjukkan bahwa iddah perempuan hamil berakhir dengan kelahirannya, apakah ia ditinggal mati suami atau dicerai ketika suami masih hidup. Sebagian ulama salaf pernah berpendapat bahwa perempuan hamil yang ditinggal wafat suaminya harus menunggu waktu yang terjauh di antara dua iddah, tetapi kemudian terjadi kesepakatan bahwa iddahnya selesai begitu ia melahirkan.

Namun tidak setiap sesuatu yang keluar dari rahim mengakhiri iddah; yang dimaksud hanyalah kandungan yang sudah tampak bentuk manusia. Jika yang keluar hanyalah segumpal daging di mana belum tampak bentuknya, iddah tidak selesai karenanya.

Disyaratkan pula agar kandungan itu dapat dinasabkan kepada suami yang berpisah. Jika tidak dapat dinasabkan—misalnya suami itu secara alamiah tidak mungkin memiliki anak karena masih kecil atau karena cacat bawaan, atau bayi itu lahir kurang dari enam bulan sejak akad nikah sementara telah mungkin terjadi hubungan dan bayi itu hidup—maka iddahnya belum selesai, karena anak itu tidak dinasabkan kepadanya.

Batas minimal kehamilan adalah enam bulan. Allah Ta‘ala berfirman, “Masa mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,” dan firman-Nya, “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh.” Jika masa menyusui—dua tahun, yakni dua puluh empat bulan—dikurangkan dari tiga puluh bulan, tersisa enam bulan. Itulah batas minimal kehamilan, dan tidak diketahui ada bayi yang dapat hidup dengan usia kandungan yang lebih pendek dari itu.

الحياة. ومن ارتفع حيضها ولم تدر ما رفعه. وامرأة المفقود. وهاك بيان ذلك على التفصيل. فالحامل تعتد بوضع الحمل؛ سواء كانت مفارقة في الحياة أو بالموت؛ لقوله تعالى: ﴿وَأُولاتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُن﴾ ؛ فدلت الآية الكريمة على أن عدة الحامل تنتهي بوضع حملها، سواء كانت متوفى عنها أو مفارقة في الحياة، وذهب بعض السلف إلى أن الحامل المتوفى عنها تعتد بأبعد الأجلين، لكن حصل الاتفاق بعد ذلك على انقضاء عدتها بوضع الحمل. لكن ليس كل حمل تنقضي بوضعه العدة، وإنما المراد الحمل الذي قد تبين فيه خلق إنسان، فأما لو ألقت مضغة لم تتبين فيها الخلقة؛ فإنها لا تنقضي بها العدة. وكذلك يشترط لانقضاء العدة بوضع الحمل أن يلحق هذا الحمل بالزوج المفارق، فإن لم يلحق هذا الحمل بالزوج المفارق؛ لكون هذا الزوج لا يولد لمثله لصغره أو لمانع خلقي، أو تكون قد ولدته لدون ستة أشهر منذ عقد عليها وأمكن اجتماعه بها وعاش هذا المولود؛ فإنها لا تنقضي عدتها به منه؛ لعدم لحوقه به. وأقل مدة الحمل ستة أشهر؛ لقوله تعالى: ﴿وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً﴾ ، مع قوله تعالى: ﴿وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ﴾ ، فإذا أسقطنا مدة الرضاع وهي: حولان، أي: أربعة وعشرون شهرًا من ثلاثين شهراً؛ يبقى ستة أشهر، وهي أقل مدة الحمل، وما دونها لم يوجد من يعيش لدونها.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie