al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[maka nasab bayi tersebut tetap dinisbatkan kepadanya; karena masa kehamilan paling singkat adalah enam bulan. Apabila budak itu melahirkan dalam waktu kurang dari enam bulan tersebut dan bayi itu hidup, berarti jelas bahwa ia telah mengandung sebelum ia dijual, dan saat itu ia masih menjadi “ranjang” baginya. Nabi ﷺ bersabda, “Anak itu mengikuti ranjang.”

Nasab seorang anak tidak dihubungkan kepada suami dalam dua keadaan:

  1. Apabila sang istri melahirkan kurang dari enam bulan sejak akad nikahnya dan bayi itu hidup; karena dalam kurun sesingkat itu mustahil ia hamil dan melahirkan, sehingga pasti ia telah mengandung sebelum dinikahi.

  2. Apabila ia ditalak dengan talak bain, kemudian melahirkan setelah berlalu lebih dari empat tahun sejak talak tersebut; maka nasab anak itu tidak dinisbatkan kepadanya, karena diketahui ia hamil setelah pernikahan berakhir.

Seorang tuan juga tidak dihubungkan dengan anak yang dilahirkan budaknya apabila ia mengaku telah menunggu masa pembersihan rahim budaknya setelah menggaulinya; sebab dengan menunggu masa itu diyakini rahimnya telah bersih darinya, sehingga bayi tersebut berasal dari orang lain. Pengakuan sang tuan diterima mengenai terjadinya masa pembersihan rahim itu karena hal tersebut tersembunyi dan sulit dibuktikan; tetapi pengakuannya tidak diterima kecuali jika ia bersumpah, sebab ia sedang meniadakan hak nasab si anak, sehingga ia wajib bersumpah ketika mengklaim telah menunggu masa pembersihan itu.

Apabila timbul keraguan mengenai nasab seorang bayi, maka prinsip “ranjang” didahulukan daripada kemiripan fisik. Misalnya, seorang tuan mengaku bahwa bayi yang dilahirkan budaknya adalah anaknya, sedangkan seorang lelaki yang menggauli budak itu karena kekeliruan syar‘i juga mengakuinya; maka anak tersebut menjadi milik sang tuan, sesuai sabda Nabi ﷺ, “Anak itu mengikuti ranjang.”

Dalam masalah nasab, anak mengikuti ayahnya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Panggillah mereka dengan nama ayah-ayah mereka.” (al-Ahzab: 5).]

المولود؛ فإنه يلحقه نسبة؛ لأن أقل مدة الحمل ستة أشهر، فإذا ولدت دونها، وعاش مولودها؛ فإنه بذلك يعلم أنها حملت به قبل أن يبيعها، وهي حينذاك فراش له، وقد قال ﷺ: "الولد للفراش". وينتفي كون الولد من الزوج في حالتين: الحالة الأولى: إذا ولدته لدون ستة أشهر منذ زواجها وعاش؛ لأن هذه المدة لا يمكن أن تحمل وتلد فيها، فتكون حينئذ حاملاً به قبل أن يتزوجها. الحالة الثانية: إذا طلقها بائن ا، ثم تلد بعد مضي أكثر من أربع سنين من طلاقه لها؛ فإنه لا يلحقه نسب ذلك المولود؛ لأننا نعلم أنها حملت بعد ذلك النكاح. ولا يلحق السيد نسب ولد أمته إذا ادَّعى أنه قد استبرأها بعد وطئه لها؛ لأنه باستبرائه لها تيقن براءة رحمها منه، فيكون هذا المولود من غيره، والقول قوله في حصول الاستبراء؛ لأنه أمر خفي لا يمكن الاطلاع عليه إلا بعسر ومشقة، لكن لا يقبل قوله في ذلك؛ إلا خلف عليه؛ لأنه بذلك ينكر حق الولد في النسب؛ فلا بد من يمينه في ادعاء الاستبراء. وإذا حصل إشكال في مولود؛ فإنه يقدم الفراش على الشبه؛ كأن يدعي سيد ولد أمته، ويدعيه واطىء بشبهة؛ فهو للسيد؛ عملاً بقولهصلى الله عليه وسلم: "الولد للفراش". ويتبع الولد في النسب أباه؛ لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِم﴾ .

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie