al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Sebagian ulama berpendapat bahwa niat memperbaiki keadaan merupakan syarat sahnya rujuk, karena Allah berfirman: “jika keduanya bermaksud untuk memperbaiki (keadaan).”

Syekh al-Islâm Ibnu Taimiyah berkata, “Rujuk tidak boleh diberikan kecuali kepada suami yang memang berniat memperbaiki atau menahan istrinya dengan cara yang baik.”

Namun sebagian ulama lain berpendapat bahwa niat tersebut bukan syarat, karena ayat itu hanya menganjurkan perbaikan dan melarang tindakan yang merugikan, bukan mensyaratkannya. Meskipun demikian, pendapat pertama lebih kuat.

Allah-lah yang lebih mengetahui.

Rujuk terjadi dengan lafaz tegas seperti, “Aku rujuk istriku,” atau ungkapan serupa: “Aku mengembalikannya,” “Aku menahannya,” “Aku memulangkannya,” dan sejenisnya.

Rujuk juga sah melalui hubungan badan apabila disertai niat rujuk—ini adalah pendapat yang paling kuat.

Setelah rujuk, disunnahkan menghadirkan saksi; sebagian bahkan mewajibkannya, berdasarkan firman Allah Taʿālā: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian.” Ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Syekh Taqiyuddin berkata, “Rujuk tidak sah sama sekali bila dilakukan secara sembunyi-sembunyi.”

Perempuan yang ditalak rajʿî tetap berstatus istri selama masa idah; ia berhak atas nafkah, pakaian, dan tempat tinggal sebagaimana istri lainnya, dan ia wajib tinggal di rumah tersebut. Ia dianjurkan berhias untuk suaminya agar suami mungkin merujuknya. Masing-masing mewarisi yang lain bila salah satunya wafat dalam masa idah. Suami boleh bepergian, berduaan, dan berhubungan badan dengannya.

Waktu rujuk berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa idah; maka ketika wanita yang ditalak rajʿî suci dari haid ketiganya, ia tidak lagi halal bagi suaminya kecuali dengan akad nikah baru—dengan wali dan dua saksi adil—berdasarkan pemahaman

قال بعض العلماء: يشترط ذلك؛ لأن الله يقول: ﴿إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحاً﴾ . قال شيخ الإسلام ابن تيمية: "لا يمكن من الرجعة إلا من أراد إصلاح اوإمساك ابمعروف". وقال البعض الآخر: لا يشترط ذلك؛ لأن الآية إنما تدل على التحضيض على الإصلاح، والمنع من الإضرار، ولا على اشتراط ذلك، والقول الأول أظهر. والله أعلم. وتحصل الرجعة بلفظ: "راجعت امرأتي"، ونحو ذلك؛ مثل: رددتها، أمسكتها، أعدتها ... وما أشبه ذلك. وتحصل الرجعة أيض ابوطئها إذا نوي الرجعة على الصحيح. وإذا راجعها؛ فإنه يسن أن يشهد على ذلك، وقيل: يجب الإشهاد؛ لقوله تعالى: ﴿وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ﴾ ، وهو رواية عن الإمام أحمد، وقال الشيخ تقي الدين: "لا تصح الرجعة مع الكتمان بحال". والمطلقة الرجعية زوجة ما دامت في العدة، لها ما للزوجات من نفقة وكسوة ومسكن، وعليها ما على الزوجة من لزوم المسكن، وتتزين له لعله يراجعها، ويرث كل منهما صاحبه إذا مات في العدة، وله السفر والخلوة بها، وله وطؤها. وينتهي وقت الرجعة بانتهاء العدة، فإذا طهرت الرجعية من الحيضة الثالثة؛ لم تحل له؛ إلا بنكاح جديد بولي وشاهدي عدل؛ لمفهوم

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie