al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

, misalnya ucapan “Aku telah mentalakmu”; juga bentuk isim fāʿil seperti “Engkau talak”, dan bentuk isim mafʿūl, yakni “Engkau telah ditalak”. Adapun bentuk fiʿil muḍāriʿ (sedang/akan) dan bentuk amar (perintah)—seperti “Kau akan menalak” dan “Talaklah!”—serta bentuk isim fāʿil dari verba rubāʿī, misalnya “Engkau muṭalliqah”, ketiganya tidak menjatuhkan talak karena tidak menunjukkan pelaksanaan talak.

Bagian kedua: lafaz kinayah, yaitu lafaz yang mengandung kemungkinan talak maupun makna lain, seperti ia berkata kepada istrinya, “Engkau lepas”, “Engkau bebas”, “Engkau terputus”, “Engkau merdeka”, atau “Keluarlah—kembalilah kepada keluargamu”, dan ungkapan sejenis.

Perbedaan antara lafaz ṣarīḥ dan lafaz kinayah dalam talak adalah sebagai berikut:
Lafaz ṣarīḥ menjatuhkan talak meskipun tidak disertai niat, baik diucapkan dengan serius, main-main, maupun bergurau; berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Tiga perkara yang seriusnya sungguh-sungguh dan candanya pun sungguh-sungguh: nikah, talak, dan rujuk.” (diriwayatkan oleh lima imam kecuali an-Nasāʾī).

Sedangkan lafaz kinayah tidak menjatuhkan talak kecuali disertai niat talak yang menyertai pengucapannya; sebab lafaz-lafaz itu dapat bermakna talak maupun makna lain, sehingga tidak khusus untuk talak kecuali bila diniatkan. Jika tidak diniatkan talak, maka tidak jatuh, kecuali pada tiga keadaan:

  1. Diucapkan saat terjadi perselisihan antara suami dan istri.
  2. Diucapkan dalam keadaan marah.
  3. Diucapkan sebagai jawaban atas permintaan istri agar ditalak.

Dalam keadaan-keadaan ini talak jatuh dengan lafaz kinayah meskipun suami berkata, “Aku tidak meniatkannya,” karena indikasinya menunjukkan bahwa ia memang meniatkannya; maka pengingkarannya tidak diterima. Allah Maha Mengetahui.

ك "طلقتك"، واسم فاعل ك "أنت طالق"، واسم المفعول؛ كأن يقول: "أنت مُطَلَّقة"؛ دون المضارع والأمر؛ مثل: "تطلقين" و "اطلقي"، واسم الفاعل م الرباعي؛ ك "أنت مُطَلَّقة"؛ فلا يقع بهذه الألفاظ الثلاثة طلاق؛ لأنها لا تدل على الإيقاع. القسم الثاني: ألفاظ كنائية، وهي الألفاظ التي تحتمل الطلاق وغيره، كأن يقول لها أنت خلية وبرية وبائن، وأنت حرة، أو: اخرجي والحقي بأهلك ... وما أشبه ذلك. والفرق بين الألفاظ الصريحة وألفاظ الكناية في الطلاق: أن الصريحة يقع بها الطلاق، ولو لم ينوه، سواء كان جادًّا أو هازلاً أو مازح ا؛ لقوله ﷺ: "ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح، والطلاق، والرجعة"، رواه الخمسة إلا النسائي. وأما الكناية؛ فلا يقع بها طلاق؛ إلا إذا نواه نية مقارنة للفظه؛ أنه هذه الألفاظ تحتمل الطلاق وغيره من المعاني؛ فلا تتعين للطلاق إلا بنيته، فإذا لم ينو بها الطلاق؛ لم يقع؛ إلا في ثلاث حالات: الأولى: إذا تلفظ بالكناية في حال خصومة بينه وبين زوجته. الثانية: إذا تلفظ بها في حال غضب. الثالثة: إذا تلفظ بها في جواب سؤالها له الطلاق. ففي هذه الأحوال يقع بالكناية طلاق، ولو قال: لم أنوِ؛ لأن القرينة تدل على أنه نواه؛ فلا يصدَّق بقوله: لم أنوه. والله أعلم.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie