al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Ambillah kembali kebunnya dan ceraikanlah dia dengan satu talak,” lalu beliau memerintahkannya agar berpisah darinya. Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Adapun ijmak, Ibn ʿAbd al-Barr berkata, “Kami tidak mengetahui adanya orang yang menyelisihi hal ini kecuali al-Muzani; ia berpendapat bahwa ayat tersebut telah di-nasakh oleh firman Allah Taʿala: ‘Dan jika kalian hendak mengganti istri dengan istri lain, padahal kalian telah memberikan kepada salah seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikit pun darinya.’”

Syarat sahnya tebus cerai ialah:

  1. Adanya kompensasi yang diberikan oleh orang yang sah melakukan hibah;
  2. Dilakukan oleh suami yang sah menjatuhkan talak;
  3. Suami tidak menahan istri tanpa hak hingga ia terpaksa menyerahkan kompensasi;
  4. Diucapkan dengan lafaz tebus cerai.

Apabila diucapkan dengan lafaz talak, atau dengan lafaz kiasan talak disertai niat talak, maka hukumnya talak; suami tidak berhak merujukinya, tetapi boleh menikahinya kembali dengan akad baru, sekalipun ia belum menikah dengan lelaki lain, selama sebelumnya belum sempurna tiga talak. Adapun apabila diucapkan dengan lafaz tebus cerai, pembatalan, atau penebusan tanpa diniatkan talak, maka hukumnya pembatalan nikah dan tidak mengurangi hitungan talak. Pendapat ini dinukil dari Ibn ʿAbbās raḍiyallāhu ʿanhumā; ia berdalil dengan firman Allah Taʿala: “Talak itu dua kali,” kemudian firman-Nya: “Tidak ada dosa atas keduanya terhadap apa yang diberikan istri untuk menebus dirinya,” lalu firman-Nya: “Jika ia (suami) menceraikannya (lagi), maka ia tidak halal baginya setelah itu hingga ia menikah dengan suami yang lain.” Allah menyebutkan dua talak, kemudian tebus cerai, lalu satu talak setelahnya. Seandainya tebus cerai itu talak, tentu ia menjadi talak keempat. Allah-lah Yang Maha Mengetahui.]

قالت: نعم، فقال رسول الله صلى عليه وسلم: "أقبل الحديقة وطلقها تطليقة" وأمره بفراقها. رواه البخاري. وأما الإجماع؛ فقد قال ابن عبد البر: "لا نعلم أحدًا خالف في ذلك إلا المزني؛ فإنه زعم أن الآية منسوخة بقوله تعالى: ﴿وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَاراً فَلا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئاً﴾ ". ويشترط لصحة الخلع: بذل عوض ممن يصح تبرعه، وأن يكون صادرًا من زوج يصح طلاقه، وأن لا يعضلها بغير حق حتى تبذله، وأن يكون بلفظ الخلع، أما كان بلفظ الطلاق، أو بلفظ كناية الطلاق مع نيته؛ فهو طلاق، ولا يملك رجعتها، لكن له أن يتزوجها بعقد جديد، ولو لم تنكح زوج اغيره، إذا لم يسبقه من الطلاق ما يصير به ثلاث ا، أما إن وقع بلفظ الخلع أو الفسخ أو الفداء، ولم ينوه طلاق ا؛ كان فسخ ا، لا ينقص به عدد الطلاق، ورد ذلك عن ابن عباس ﵄، واحتج بقوله تعالى: ﴿الطلاق مرتان﴾ ، ثم قال تعالى: ﴿فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ﴾ ، ثم قال تعالى: ﴿فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَه﴾ ؛ فذكر تطليقتين، ثم ذكر الخلع، ثم ذكر تطليقة بعده، فلو كان الخلع طلاق ا؛ لكان رابع، والله أعلم.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie