al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

agar ia menebus dirinya darinya; maka suami tersebut berlaku zalim kepadanya, haram baginya mengambil kompensasi darinya, dan tebus cerai itu tidak sah, karena Allah Taʿala berfirman: “Janganlah kalian menahan mereka dengan tujuan mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka.” Maksudnya: janganlah kalian menyakiti mereka dalam pergaulan sehingga mereka meninggalkan sebagian atau seluruh mahar yang telah kalian serahkan, atau meninggalkan hak apa pun yang menjadi milik mereka atas suaminya; kecuali jika penahanan itu terjadi karena sang istri tidak menjaga kehormatannya, yakni berzina, dan suami melakukannya untuk menarik kembali mahar yang telah ia berikan, maka hal itu boleh baginya, berdasarkan firman Allah Taʿala: “kecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata.” Ibn ʿAbbās berkata menafsirkan ayat tersebut: “Ini tentang seorang laki-laki yang mempunyai istri, ia tidak suka hidup bersamanya, padahal ia telah memberinya mahar; lalu ia menyusahkannya agar ia menebus diri dengan mahar itu. Maka Allah melarang perbuatan tersebut, kemudian berfirman: ‘kecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata’, yakni zina; maka suami boleh mengambil kembali mahar yang telah ia berikan, menyusahkannya sampai ia menyerahkannya, dan menceraikannya dengan tebus cerai.”

Dalil bolehnya tebus cerai ketika ada alasan yang membenarkannya berasal dari Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak.

Al-Qur’an: ayat yang telah kami sebutkan, “Apabila kalian khawatir keduanya tidak akan menegakkan batas-batas Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya mengenai apa yang dipakai istri untuk menebus dirinya.”

Sunnah: dalam Shahih disebutkan bahwa istri Tsābit bin Qais رضي الله عنه berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela agama dan akhlaknya, tetapi aku khawatir akan jatuh pada kekufuran dalam Islam”—yakni ingkar kepada suami yang terlarang dan lalai menunaikan haknya karena sangat membencinya—maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah engkau mau mengembalikan kebunnya kepadanya?”

منه؛ فإنه يكون بذلك ظالم الها، ويحرم عليه أخذ العوض منها، ولا يصح الخلع؛ لقوله تعالى: ﴿وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنّ﴾ ؛ أي: لا تضاروهن في العشرة لتترك بعض ما أصدقت أو كله أو تترك حق امن حقوقها التي لها على زوجها؛ إلا إذا كان عضله لها في تلك الحال لكونها غير عفيفة من الزنى، ففعل ذلك ليسترجع منها الصداق الذي أعطاها؛ جاز له ذلك؛ لقوله تعالى: ﴿إِلاّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ﴾ ؛ قال ابن عباس في معنى الآية: "هذا في الرجل تكون له المرأة، وهو كاره لصحبتها، ولها عليه مهر، فيضرها لتفتدي به، فنهى تعالى عن ذلك، ثم قال: ﴿إِلاّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ﴾ ؛ يعني: الزنى؛ فله أن يسترجع منها الصداق الذي أعطاها، ويضاجرها حتى تتركه له، ويخالعها". والدليل على جواز المخالعة عند حصول السبب المسوغ لها: الكتاب والسنة والإجماع. أما الكتاب؛ فالآية التي أسلفنا تلاوتها، وهي قوله تعالى: ﴿فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ﴾ . وأما السنة؛ ففي "الصحيح" أن امرأة ثابت بن قيس ﵁ قالت: يا رسول الله! ما أعيب من دين ولا خلق، ولكن أكره الكفر في الإسلام "أي: كفران العشير المنهي عنه والتقصير فيما يجب له بسبب شدة البغض له"، فقال لها الرسول ﷺ: "أتردين عليه حديقته؟ "

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie