al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[… suatu kompensasi (tebusan) yang ia serahkan kepada suaminya untuk menebus dirinya; Allah Taʿala berfirman: “Apabila kalian khawatir keduanya tidak dapat menegakkan batas-batas Allah, maka tidak ada dosa bagi keduanya atas apa yang dipakai istri untuk menebus dirinya.” Artinya: bila suami atau istri mengetahui bahwa apabila mereka tetap dalam ikatan pernikahan masing-masing tidak akan menunaikan kewajiban terhadap pasangannya, sehingga suami berpotensi menzalimi istrinya atau istri khawatir menelantarkan hak suaminya, maka tidak mengapa istri menebus dirinya dari suami dengan sejumlah harta, dan tidak mengapa pula suami menerima harta itu, lalu melepaskannya.

Hikmah ketentuan ini ialah istri terbebas dari suaminya dengan cara yang tidak memungkinkan rujuk, sehingga menjadi solusi adil bagi keduanya. Disunnahkan bagi suami untuk mengabulkan permintaan tersebut; namun bila suami masih mencintainya, dianjurkan bagi istri untuk bersabar dan tidak menebus dirinya.

Tebus cerai hukumnya boleh apabila ada sebab sebagaimana yang disebutkan ayat mulia itu, yakni kekhawatiran kedua belah pihak bahwa, bila tetap dalam pernikahan, mereka tidak dapat menegakkan batas-batas Allah. Jika tidak ada kebutuhan untuk tebus cerai, hukumnya makruh; bahkan menurut sebagian ulama haram dalam keadaan ini, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Perempuan mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang sah, maka haram baginya bau surga.” (HR. al-Khamsah kecuali an-Nasāʾī).

Syaikh Taqiyuddin berkata, “Tebus cerai yang datang dalam Sunnah adalah ketika seorang wanita membenci suaminya, lalu ia menebus dirinya darinya seperti seorang tawanan.”

Dan apabila suami tidak mencintainya, tetapi ia menahannya dengan maksud agar ia menebus…]

عوض يبذله له تفيدي به نفسها؛ لقوله تعالى: ﴿إِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِه﴾ ؛ أي: إذا علم الزوج أو الزوجة أنهما إذا بقيا على الزوجية لا يؤدي كل واحد منهما الواجب عليه نحو الآخر، فيحصل من جراء ذلك أن يعتدي الزوج على زوجته، أو تخاف المرأة أن تعضي زوجها؛ فلا حرج على الزوجة أن تفتدي نفسها من الزوج بعوض، ولا حرج على الزوج في أخذ ذلك العوض، ويخلي سبيلها. وحكمة ذلك: أن الزوجة تتلخص من زوجها على وجه لا رجعة فيه؛ ففيه حل عادل للاثنين، ويسن للزوج أن يجبيها حينئذ، وإن كان الزوج يحبها؛ استحب لها أن تصبر ولا تفتدي منه. والخلع مباح إذا توفر سببه الذي أشارت إليه الآية الكريمة، وهو خوف الزوجين إذا بقيا على النكاح أن لا يقيما حدود الله، وإذا لم يكن هناك حاجة للخلع؛ فإنه يكره، وعند بعض العلماء أنه في هذه الحال؛ لقوله ﷺ: "أيما امرأة سألت زوجها الطلاق من غير ما بأس؛ فحرام عليها رائحة الجنة"، رواه الخمسة إلا النسائي. قال الشيخ تقي الدين: "الخلع الذي جاءت به السنة أن تكون المرأة مبغضة للرجل، فتفتدي نفسها منه كالأسير". وإن كان الزوج لا يحبها، ولكنه يمسكها لغرض أن وتفتدي

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie