al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

adalah yang paling ringan pengeluarannya,” diriwayatkan oleh Aḥmad, al-Bayhaqī, al-Ḥākim, dan lainnya.
ʿUmar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ʿanhu berkata, “Ketahuilah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menetapkan mahar wanita; sebab seandainya hal itu merupakan kemuliaan di dunia atau ketakwaan di sisi Allah, tentulah Rasulullah ﷺ yang paling layak mendapatkannya. Rasulullah ﷺ tidak pernah memberikan mahar kepada salah seorang istrinya, dan tidak ada seorang pun dari putri beliau yang menerima mahar lebih dari dua belas uqiyah. Sungguh, seorang lelaki bisa saja menaikkan mahar istrinya hingga menumbuhkan permusuhan di dalam hatinya terhadap istrinya, sampai ia berkata, ‘Aku harus menanggung biaya seharga tali penutup qirbah demi dirimu.’” Diriwayatkan oleh an-Nasā’ī dan Abū Dāwūd.
Dari sini dapat dipahami bahwa besarnya mahar dapat menjadi sebab kebencian suami kepada istrinya ketika ia teringat besarnya mahar itu. Karena itu, perempuan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling ringan bebannya, sebagaimana hadis ʿĀisyah; memudahkan mahar mendatangkan berkah bagi istri dan menumbuhkan cinta di hati suami.
Hikmah disyariatkannya mahar adalah: ia merupakan ganti atas kenikmatan (hubungan suami-istri) sekaligus penghormatan dan pengakuan terhadap kedudukan istri di hadapan suami.
Dianjurkan menamai dan menetapkannya di dalam akad guna menutup pintu perselisihan.
Namun boleh juga penamaan dan penetapannya dilakukan setelah akad, berdasarkan firman Allah Taʿālā, “Tidak ada dosa atas kalian jika kalian menceraikan para wanita sebelum kalian menyentuh mereka atau menetapkan mahar bagi mereka” (al-Baqarah: 236); ayat ini menunjukkan bahwa penetapan mahar boleh ditunda setelah akad.

أيسرهن مؤنة"، رواه أحمد والبيهقي والحاكم وغيرهم. وقال عمر بن الخاب ﵁: "ألا لا تغالوا في صدق النساء؛ فإنه لو كان مكرمة في الدنيا أو تقوى عند الله؛ كان أولاكم بها رسول الله ﷺ، ما أصدق رسول الله ﷺ امرأة من نسائه، ولا أصدقت امرأة من بناته، اكثر من اثنتي عشرة أوقية، وإن الرجل ليغلي بصدقة امرأته حتى يكون لها عداوة في قلبه، وحتى يقول: كلفت فيك علق القربة" أخرجه النسائي وأبو داود. ومنه تعلم أن كثرة الصداق قد تكون سببا في بغض الزوج لزوجته حينما يتذكر ضخامة صداقها، ولهذا كان أعظم النساء بركة أيسرهن مؤنة؛ كما في حديث عائشة؛ فتيسير الصداق يسبب البركة في الزوجة ويزرع لها المحبة في قبل الزوج. والحكمة في مشروعية الصداق: أن فيه معاوضة عن الاستمتاع، وفيه تعزيز لجانب الزوجة وتقدير لمكانتها في حق الزوج. وتستحب تسميته الصداق، وتحديده في العقد؛ لقطع النزاع. ويجوز أن يسمى ويحدد بعد العقد؛ لقوله تعالى: ﴿لا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا﴾ ؛ فدلت الآية على أن فرض الصداق قد يتأخر عن العقد.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie