al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata, “Mahar yang dibayar di muka, apabila jumlahnya besar sementara suami mampu menunaikannya, tidaklah makruh, kecuali jika disertai unsur pamer dan sejenisnya yang menjadikannya makruh. Adapun bila suami tidak mampu, sedangkan maharnya besar dan ditangguhkan sebagai utang atas dirinya, maka hal itu semestinya dimakruhkan, karena ia telah menjerumuskan diri ke dalam beban tanggungan.” Selesai perkataannya.

Kesimpulannya: besarnya mahar tidaklah makruh selama tidak mencapai tingkat berlebih-lebihan dan pemborosan, tidak memberatkan pihak suami hingga memaksanya meminta bantuan orang lain dengan cara mengemis atau semacamnya, dan tidak menjadikannya terbebani utang. Inilah patokan berharga yang menjamin kemaslahatan dan menolak kemudaratan.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa praktik masyarakat sekarang berupa menetapkan mahar yang sangat tinggi tanpa mempertimbangkan kondisi calon suami yang miskin—hingga mahar itu menjadi rintangan sulit menuju pernikahan—tidak diragukan lagi termasuk perkara yang makruh, bahkan haram. Terlebih lagi bila dibarengi biaya lain: pembelian kain-kain mahal, perhiasan yang harganya selangit, pesta dan jamuan yang penuh pemborosan, serta pembuangan makanan dan daging tanpa ada manfaat yang kembali kepada kedua mempelai. Semua itu adalah beban, belenggu, dan tradisi buruk yang wajib diperangi, dihapuskan, dan disingkirkan agar jalan menuju pernikahan bersih dari rintangannya.

Dalam hadis ʿĀisyah raḍiyallāhu ʿanhā secara marfūʿ disebutkan: “Perempuan yang paling besar keberkahannya …”]

قال شيخ الإسلام ابن تيمية ﵀: "الصداق المقدم إذا كثر وهو قادر على ذلك؛ لم يكره؛ إلا أن يقترن بذلك ما يوجب الكراهة من معنى المباهاة ونحو ذلك، فأما إن كان عاجزاً عن ذلك؛ فأما إن كثر، وهو مؤخر في ذمته؛ فينبغي أن يكره؛ لما فيه من تعريض نفسه لشغل الذمة" انتهى كلامة. والخلاصة: أن كثرة الصداق لا تكره إذا لم تبلغ حد المباهاة والإسراف، ولم تثقل كاهل الزوج؛ بحيث تحوجه إلى الاستعانة بغيره عن طريق المسألة ونحوها، ولم تشغل ذمته بالدين، وهي ضوابط قيمة تكفل المصلحة وتدفع المضرة. ويتبين من خلال ما سبق أن ما وصل إليه الناس في قضية المهور من المغالاة الباهظة التي لا يراعي فيها جانب الزوج الفقير والتي أصبحت صعبة المرتقى في طريق الزواج؛ أن هذه المغالاة لا شك في كراهتها أو تحريمها، خصوصا وأنه يكون إلى جانبها تكاليف أخرى؛ من شراء الأقمشة الغالية الثمن، والمصاغات الباهظة، والحفلات والولائم المشتملة على الإسراف والتبذير وإهدار الأطعمة واللحوم في غير مصلحة تعود إلى الزوجين؛ لا شك أن كل ذلك من الآصار والأغلال والتقاليد السيئة التي يجب محاربتها والقضاء عليها وتنقية طريق الزواج من عراقيلها. وفي حديث عائشة ﵂ مرفوعا: "أعظم النساء بركة

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie