al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

dalam keadaan apa pun, apa pun jenis pembunuhan; karena keumuman sabda Nabi ﷺ: “Pembunuh tidak mewarisi sedikit pun.” Pembunuh diharamkan mewarisi agar pembunuhan tidak dijadikan sarana untuk memperoleh harta warisan; maka ia wajib terhalang dalam setiap keadaan, guna menutup celah tersebut. Atas dasar ini, setiap orang yang mempunyai andil dalam pembunuhan terhalang mewarisi, meskipun tindakannya dibenarkan syariat—seperti algojo yang melaksanakan hukuman balas bunuh, hakim yang menjatuhkan vonis mati, atau saksi—bahkan sekalipun pembunuhan itu tanpa sengaja, misalnya terjadi karena perbuatan orang yang sedang tidur, orang gila, atau anak kecil; demikian pula bila kematian timbul dari perbuatan yang pada asalnya dibenarkan syariat, seperti tindakan mendidik atau mengobati yang berujung pada wafatnya orang yang dididik atau diobati.

Mazhab Hanbali berpendapat bahwa pembunuhan yang menghalangi warisan hanyalah pembunuhan tanpa hak, yakni yang mewajibkan tanggungan berupa balasan bunuh, diyat, atau kafarat: pembunuhan sengaja, semi-sengaja, kelalaian, serta yang sejenis—termasuk pembunuhan karena sebab dan yang dilakukan anak kecil, orang gila, atau orang yang tertidur. Adapun pembunuhan yang tidak menimbulkan tanggungan tersebut tidak menghalangi warisan: seperti eksekusi balas bunuh, hukuman had, pembelaan diri, terbunuhnya pemberontak oleh orang yang adil, atau kematian akibat perbuatan yang mendapat izin syariat, seperti disiplin dan pengobatan.

Mazhab Hanafi serupa, kecuali mereka menilai bahwa pembunuhan melalui sebab tidak menghalangi warisan—misalnya seseorang menggali sumur atau menaruh batu di jalan hingga pewarisnya mati karenanya. Begitu pula pembunuhan yang benar-benar tanpa sengaja, seperti yang dilakukan anak kecil dan orang gila, tidak menutup hak waris.

Menurut mazhab Maliki, kedudukan pembunuh terbagi dua. Keadaan pertama: ia membunuh pewarisnya dengan sengaja dan aniaya; dalam hal ini ia tidak mewarisi harta pewarisnya maupun diyatnya.

بحال، أيّاً كان نوع القتل؛ لعموم قولهصلى الله عليه وسلم: "لا يرث القاتل شيئا"، ولأن القاتل حرم الميراث لئلا يجعل القتل ذريعة إلى استعمال الميراث، فوجب أن يحرم بكل حال؛ لحسم الباب. فعلى هذا لا يرث كل من له دخل في القتل، ولو كان بحق؛ كالمقتص، ومن حكم بالقتل؛ كالقاضي، وكذا الشاهد، وحتى لو كان القتل بغير قصد؛ كالقتل الذي يحصل من نائم ومجنون وطفل، وكذا لو كان القتل ناتجا عن فعل مأذون فيه شرعا؛ كالمؤدب والمداوي إذا ترتب على التأديب والعلاج موت المؤدَّب والمعاالَج. وذهب الحنابلة إلى أن القتل الذي يمنع الإرث هو القتل بغير حق، وهو ما وجب ضمانه بقود أو دية أو كفارة؛ كالقتل العمد وشبه العمد والخطأ وما جرى مجراه كالقتل بالسبب والقتل من الصبي والمجنون والنائم، وما ليس بمضمون بشيء مما ذكر؛ فإنه لا يمنع الميراث؛ كالقتل قصاصا أو حدّاً أو دفعا عن النفس أو كان القاتل عادلاً المقتول باغيا أو كان القتل ناتجا عن فعل مأذون به شرعا؛ كالتأديب والعلاج. وكذا مذهب الحنفية؛ إلا أنهم اعتبروا القتل بالتسبب لا يمنع الميراث؛ كما لو حفر بئرًا أو وضع حجرًا في الطريق، فانقتل بذلك مورثه، وكذا القتل بغير قصد لا يمنع الميراث؛ كالقتل من الصبي والمجنون. وعند المالكية أن القاتل له حالتان: الحالة الأولى: أن يكون قبل مورٍّثه عمدًا عدوانا؛ ففي هذه الحالة لا يرث من مال مورثِّه ولا من ديته.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie