al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

masing-masing mereka telah terbukti secara yakin, dan hukum asalnya adalah bahwa ia tetap hidup hingga setelah yang lainnya wafat. Selain itu, tatkala wabah tha‘un melanda Syam, ‘Umar r.a. mendapati suatu keluarga wafat seluruhnya; maka beliau menuliskan hal itu kepada ‘Umar, dan ‘Umar memerintahkan agar mereka saling mewarisi.

Disyaratkan pula, agar terjadi saling mewarisi, para ahli waris dari mayit-mayit yang urutan wafatnya masih samar tidak boleh berselisih—yakni jangan sampai ahli waris masing-masing mayit mengklaim bahwa pewaris mereka wafat belakangan sementara tak ada bukti. Apabila setiap pihak tetap bersikukuh tanpa keterangan, maka mereka saling bersumpah, dan tidak ada pewarisan di antara mereka.

Adapun tata cara pembagian waris menurut pendapat ini ialah: setiap orang mewarisi dari harta lamanya (telah dimilikinya sebelum peristiwa), bukan dari harta barunya, yaitu harta yang baru ia peroleh dari orang yang mati bersamanya. Caranya: andaikan salah seorang dianggap wafat terlebih dahulu; maka harta lamanya dibagi kepada ahli warisnya yang masih hidup dan kepada orang yang wafat bersamanya. Bagian yang jatuh kepada orang yang wafat bersamanya lalu dibagikan lagi hanya kepada ahli warisnya yang hidup, tidak kepada orang yang wafat bersamanya, agar ia tidak mewarisi hartanya sendiri. Setelah itu prosesnya dibalik: orang kedua dianggap wafat terlebih dahulu, dan pembagian dilakukan sebagaimana pada yang pertama.

Namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat pertama—yaitu tidak ada saling mewarisi—karena hak waris tidak dapat ditegakkan dengan dugaan dan keraguan. Kenyataan tentang urutan wafat di sini tidak diketahui; sesuatu yang tidak diketahui kedudukannya diperlakukan seperti tidak ada. Maka ke-terdahulu-an wafat salah seorang di antara mereka dianggap tidak ada.

Di samping itu, warisan diberikan kepada yang hidup agar ia menjadi pengganti si mayit dan dapat memanfaatkan hartanya; tujuan ini tidak tercapai di sini, di samping konsekuensi-konsekuensi lain yang timbul bila mereka dianggap saling mewarisi.

كل منهم كانت ثابتة بيقين، والأصل بقاؤها إلى ما بعد موت الآخر، ولأن عمر ﵁ لما وقع الطاعون في الشام جعل أهل البيت يموتون عن آخرهم، فكتب بذلك إلى عمر، فأمر أن يورثوا بعضهم من بعض. ويشترط للتوريث أن لا يختلف ورثة الموتى المشتبه في ترتب موتهم، فيدعي ورثة كل ميت تأخر موت مورثهم، وليس هناك بينة؛ فإنهم حينئذ يتحالفون، ولا توارث. وكيفية التوريث على هذا القول: أن يورث كل واحد من تلاد مال الآخر؛ أي: من ماله القديم؛ دون طريفه؛ أي: ماله الجديد الذي ورثه ممن مات معه في الحادث، وذلك بأن تفرض أن أحدهم مات أولاً، فتقسم ماله القديم على ورثته الأحياء ومن مات معه، فما حصل لمن مات معه من ماله بهذه القسمة؛ قسمته بين ورثته الأحياء فقط، دون من مات معه؛ لئلا يرث مال نفسه، ثم تعكس العملية مع الآخر، فتفرضه مات أولاً، وتعمل معه ما عملته مع الأول. والراجح في هذه المسألة هو القول الأول، وهو عدم التوارث؛ لأن الإرث لا يثبت بالاحتمال والشك، وواقع الموتى في هذه المسألة مجهول، والمجهول كالمعدوم، وتقدم موت أحدهم في هذه الحالة مجهول؛ فهو كالمعدوم. وأيضا الميراث إنما حصل للحي ليكون خليفة للميت ينتفع بماله بعده، وهذا مفقود هنا، مع ما يلزم على القول بتوارثهم

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie