al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Lantas ia pun menanyakan hal itu kepada orang-orang. Mughīrah bin Syuʿbah berkata, “Aku pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberinya seperenam.” Abu Bakar bertanya, “Adakah selain engkau yang menguatkan (kesaksian) ini?” Maka bangkitlah Muhammad bin Maslamah dan mengatakan seperti yang dikatakan Mughīrah bin Syuʿbah; lalu Abu Bakar menetapkan hak itu untuknya.

Selanjutnya, nenek itu datang kepada ʿUmar dan menanyakan bagian warisnya. ʿUmar berkata, “Bagimu tidak ada ketetapan apa pun di dalam Kitab Allah, tetapi (bagianmu adalah) seperenam. Apabila kalian berdua (dua orang nenek) berkumpul, maka bagian itu kalian bagi berdua; dan siapa di antara kalian yang sendirian, maka bagian itu seluruhnya menjadi miliknya.” Diriwayatkan oleh lima imam hadis kecuali an-Nasāʾī, dan at-Tirmiżī mensahihkannya.

Dari Buraidah: “Bahwa Nabi ﷺ menetapkan bagi nenek seperenam apabila tidak ada ibu di bawahnya.” Diriwayatkan oleh Abū Dāwūd, dan dinyatakan sahih oleh Ibnus Sakan, Ibnu Khuzaimah, serta Ibnu al-Jārūd.

Kedua hadis ini menunjukkan bahwa nenek berhak atas seperenam. Seperti yang dikatakan oleh ash-Shiddīq dan ʿUmar, tidak ada ketetapan baginya di dalam Kitab Allah, karena kata “ibu” yang disebutkan di dalam al-Qur’an bersifat terbatas sehingga hukum tersebut khusus bagi ibu terdekat. Maka nenek—meskipun juga disebut “ibu”—tidak termasuk dalam lafaz “ibu” yang disebutkan dalam ayat-ayat warisan, meskipun ia termasuk dalam lafaz “ibu-ibu” pada firman Allah Taʿālā: “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian…”. Rasulullah ﷺ tetap memberinya seperenam; maka hak warisnya ditetapkan melalui Sunnah.

Demikian pula, hak waris nenek telah disepakati oleh para ulama; tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka mengenai pewarisan bagi ibu dari ibu dan ibu dari ayah, sedangkan selain keduanya diperselisihkan; Ibnu ʿAbbās mewariskan

فسأل الناس، فقال المغير بن شعبة: حضرت رسول الله ﷺ أعطاها السدس. فقال: هل معك غيرك؟، فقام محمد بن مسلمة فقال مثل ما قال المغيرة بن شعبة، فأنفذه لها أبو بكر". قال: "ثم جاءت الجدة إلى عمر، فسألته ميراثها، فقال مالك في كتاب الله شيء، ولكن ذاك السدس، فإن اجتمعتما؛ فهو بينكما، وأيكما خلت فهو لها"، رواه الخمسة إلا النائي وصححه الترمذي. وعن بريدة: "أن النبي ﷺ جعل للجدة السدس إذا لم يكن دونها أم"، رواه أبو داود وصححه ابن السكن وابن خزيمة وابن الجارود. فهذان الحديثان يفيدان استحقاق الجدة السدس، وهي كما قال الصديق وعمر ﵄ ليس لها في كتاب الله شيء؛ لأن الأم المذكورة في كتاب الله مقيدة توجب اختصاص الحكم بالأم الدنيا؛ فالجدة وإن سميت أما؛ لم تدخل في لفظ الأم المذكورة في الفرائض، وإن دخلت في لفظ الأمهات في قوله تعالى: ﴿حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُم﴾ ، ولكن رسول الله ﷺ أعطاها السدس؛ فبثت ميراثها إذًا بالسنة. وكذا ثبت ميراثها بإجماع العلماء؛ فلا خلاف بين أهل العلم في توريث أم الأم وأم الأب، واختلفوا فيما عداهما؛ فورث ابن عباس

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie