al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

maka apabila Zaid datang selagi pewasiat masih hidup, wasiat itu menjadi haknya, dan dengan demikian pewasiat telah menarik kembali wasiatnya kepada ‘Amr. Namun, bila Zaid baru datang setelah pewasiat wafat, maka wasiat tetap milik ‘Amr, karena ketika pewasiat meninggal sebelum kedatangan Zaid, hak wasiat sudah tetap pada orang pertama itu, yakni ‘Amr.

Termasuk ketentuan wasiat pula bahwa segala kewajiban yang melekat pada harta peninggalan mayit—baik utang maupun kewajiban syar‘i seperti zakat, haji, nazar, dan kafarat—harus dikeluarkan lebih dahulu, meskipun si mayit tidak mewasiatkannya; berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “min baʿdi waṣiyyatin yūṣā bihā aw dayn.”

Selain itu, ʿAlī r.a. berkata, “Rasulullah ﷺ memutuskan agar utang didahulukan sebelum wasiat,” (HR. at-Tirmiżī, Aḥmad, dan lainnya). Hadis ini menunjukkan bahwa utang lebih didahulukan daripada wasiat. Dalam riwayat sahih juga disebutkan, “Bayarlah (hak) Allah; karena Allah lebih berhak untuk dipenuhi.” Dengan demikian, dimulai dengan melunasi utang, kemudian menunaikan wasiat, baru setelah itu pembagian warisan—menurut ijmak.

Adapun hikmah penyebutan wasiat lebih dahulu daripada utang dalam ayat, meskipun dalam pelaksanaannya wasiat berada setelah utang, ialah: karena wasiat menyerupai warisan—keduanya diberikan tanpa imbalan—sehingga mengeluarkannya terasa berat bagi ahli waris. Oleh sebab itu Allah mendahulukannya dalam penyebutan untuk mendorong penunaian dan menegaskan pentingnya, serta menggunakan lafaz “aw” (atau) yang menunjukkan kesetaraan, agar keduanya sama-sama diperhatikan walaupun utang tetap didahulukan atas wasiat.

Dari sinilah tampak bahwa perkara wasiat sangat penting, karena Allah telah mengangkat kedudukannya di dalam Kitab-Nya.

فقدم زيد في حياة الموصي؛ فالوصية له، ويكون الموصي بذلك قد رجع عن الوصية لعمرو، وإن لم يقدم زيد إلا بعد وفاة الموصي؛ فالوصية لعمرو؛ لأنه لما مات الموصي قبل قدومه استقرت الوصية للأول وهو عمرو. ومن أحكام الوصية: أنه يخرج الواجب في تركة الميت من الديون والواجبات الشرعية كالزكاة والحج والنذور والكفارات أولاً، وإن لم يوص به؛ لقوله تعالى: ﴿مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ﴾ . ولقول علي ﵁: "قضى رسول الله ﷺ بالدين قبل الوصية" رواه الترمذي وأحمد وغيره، فدل على تقديم الدين على الوصية، وفي "الصحيح": "اقضوا الله؛ فالله أحق بالوفاء"، فيبدأ بالدين ثم الوصية، ثم الإرث؛ بالإجماع. والحكمة في تقديم ذكر الوصية على الدين في الآية الكريمة، وإن كانت تتأخر عنه في التنفيذ: أنها لما أشبهت الميراث في كونها بلا عوض؛ كان في إخراجها مشقة على الوارث، فقدمت في الذكر؛ حثا على إخراجها، واهتماما بها، وجيء بكلمة "أو" التي للتسوية، فيستويان في الاهتمام، وإن كان الدين مقدما عليها. ومن هنا؛ فإن أمر الوصية مهم، حيث نوه الله بشأنها في كتابه

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie