al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[‘Aisyah r.a. menuturkan bahwa Abu Bakar pernah menghadiahkannya hasil panen seberat dua puluh wasq dari kebun miliknya di Al-‘Aliyah. Tatkala beliau sakit, beliau berkata, “Wahai putriku, dulu aku telah memberimu hasil panen dua puluh wasq itu. Seandainya engkau sudah menguasainya atau menerimanya, tentu itu menjadi milikmu. Namun sekarang ia termasuk harta waris, maka bagikanlah sesuai ketentuan Kitab Allah.”

Apabila barang yang dihibahkan pada saat itu memang sudah berada di tangan penerima sebagai titipan atau pinjaman pakai, lalu si pemilik menghibahkannya kepadanya, maka kelanjutan penguasaannya dianggap cukup sebagai penerimaan.

Sah pula menghibahkan piutang kepada orang yang menanggungnya; hal itu dipandang sebagai pembebasan utang baginya. Setiap sesuatu yang boleh diperjualbelikan, boleh pula dihibahkan.

Tidak sah hibah yang digantungkan pada suatu syarat di masa depan, misalnya ucapan, “Jika terjadi begini, maka aku hibahkan ini kepadamu.”

Tidak sah pula hibah yang dibatasi waktu, semisal ucapan, “Aku hibahkan ini kepadamu selama sebulan atau setahun,” karena hibah berarti pemindahan kepemilikan barang, sehingga tidak menerima pembatasan waktu, sebagaimana jual beli. Pengecualian bagi hibah bersyarat adalah bila syaratnya dikaitkan dengan kematian, seperti ucapan, “Apabila aku wafat, maka aku hibahkan ini dan itu kepadamu,” maka ia berstatus wasiat dan mengikuti hukum-hukum wasiat.

Seseorang tidak boleh menghibahkan hanya kepada sebagian anaknya sementara meninggalkan yang lain, atau lebih memuliakan sebagian anak atas yang lain dalam pemberian. Ia wajib bersikap adil kepada mereka dengan menyamakan satu sama lain, berdasarkan hadis Nu‘man bin Basyir yang menceritakan bahwa ayahnya membawanya menemui Nabi ﷺ setelah memberinya suatu hibah agar Nabi ﷺ menjadi saksinya. Nabi ﷺ pun bertanya, “Apakah semua anakmu engkau beri hibah serupa?”]

رضي الله عنها: "أن أبا بكر نحلها جذاذ عشرين وسقا من ماله بالعالية، فلما مرض؛ قال: يا بنية! كنت نحلتك جذاذ عشرين وسقا، ولو كنت حزتيه أو قبضتيه؛ كان لك؛ فإنما هو اليوم مال وارث؛ فاقتسموه على كتاب الله تعالى" وإن كانت الهبة في يد الموهب وديعة أو عارية، فوهبها له؛ فاستدامته لها تكفي عن قبضها ابتداء. وتصح هبة الدين لمن هو في ذمته، ويعتبر ذلك إبراء له، ويجوز هبة كل ما يجوز بيعه. ولا تصح الهبة المعلقة على شرط مستقبل؛ كأن يقول: إذا حصل كذا فقد وهبتك كذا. ولا تصح الهبة مؤقتة؛ كأن يقول: وهبتك كذا شهرًا أو سنة؛ لأنها تمليك للعين؛ فلا تقبل التوقيت؛ كالبيع، لكن يستثنى من التعليق تعليق الهبة بالموت؛ كأن يقول: إذا مت؛ فقد وهبتك كذا وكذا، وتكون وصية تأخذ أحكامها. ولا يجوز للإنسان أن يهب لبعض أولاده ويترك بعضهم أو يفضل بعضهم على بعض في الهبة، بل يجب عليه العدل بينهم؛ بتسوية بعضهم ببعض؛ لحديث النعمان بن بشير: أن أباه أتى به النبي ﷺ لما نحله نحلة ليشهد عليها النبي ﷺ، فقال النبي ﷺ: "أكل ولدك نحلت مثل

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie