al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[karena sesungguhnya itu bisa menjadi milikmu, milik saudaramu, atau menjadi mangsa serigala.” (Muttafaqun ‘alaih). Maksudnya, kambing itu lemah dan rentan binasa; ia terombang-ambing antara engkau yang mengambilnya, orang lain yang mengambilnya, atau dimakan serigala.

Ibnu al-Qayyim—ketika menjelaskan hadis mulia ini—berkata, “Hadis ini menunjukkan bolehnya memungut kambing tersesat. Apabila pemiliknya tidak datang, kambing itu menjadi milik orang yang memungutnya. Ia diberi pilihan: (1) memakannya saat itu juga dengan kewajiban membayar nilainya, (2) menjualnya lalu menyimpan hasil penjualannya, atau (3) membiarkannya¹ dan menanggung biaya pemeliharaannya dengan hartanya sendiri. Para ulama sepakat, bila pemiliknya datang sebelum si pemungut memakannya, maka ia berhak mengambilnya.”

Jenis kedua: barang yang dikhawatirkan cepat rusak—seperti semangka dan buah-buahan. Si pemungut hendaklah memilih tindakan yang paling menguntungkan bagi pemiliknya, yakni memakannya lalu segera membayar nilainya, atau menjualnya dan menyimpan hasil penjualannya hingga pemiliknya datang.

Jenis ketiga: harta selain dua kelompok di atas—seperti uang dan peralatan rumah tangga. Si pemungut wajib menjaga semuanya sebagai amanah dan mengumumkannya di tempat-tempat keramaian.

Ia tidak boleh mengambil barang temuan apa pun kecuali bila ia merasa aman dari pengkhianatan dan mampu mengumumkan apa yang wajib diumumkan. Hal ini didasarkan pada hadis Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu: ia berkata, “Nabi ﷺ pernah ditanya tentang barang temuan berupa emas dan perak. Beliau bersabda, ‘Kenalilah tali pengikatnya dan wadahnya, lalu umumkan selama setahun. Jika tidak ada yang mengenalinya, maka manfaatkanlah, tetapi tetap anggaplah titipan di sisimu. Apabila suatu hari pemiliknya datang menuntutnya, serahkanlah kepadanya.’” Ia juga bertanya…]

yakni mengambilnya dan membiarkannya tanpa menjual atau menyembelihnya.
فإنما هي لك أو لأخيك أو للذئب" متفق عليه، ومعناه: أنها ضعيفة، معرضة للهلاك، مترددة بين أن تأخذها أنت أو يأخذها غيرك أو يأكلها الذئب. قال ابن القيم في الكلام على هذا الحديث الشريف: "فيه جواز التقاط الغنم، وأن الشاة إذا لم يأت صاحبها؛ فهي ملك الملتقط، فيخير بين أكلها في الحال وعليه قيمتها، وبين بيعها وحفظ ثمنها، وبين تركها١ والإنفاق عليها من مالهن وأجمعوا على أنه لو جاء صاحبها قبل أن يأكلها الملتقط؛ له أخذها". النوع الثاني: ما يخشى فساده؛ كبطيخ وفاكهة، فيفعل الملتقط الأحظَّ لمالكه من أكله ودفع قيمته لمالكه، وبيعه وحفظ ثمنه حتى يأتي مالكه. النوع الثالث: سائر الأموال ما عدا القسمين السابقين؛ كالنقود والأواني، فيلزمه حفظ الجميع أمنة بيده، والتعريف عليه في مجامع الناس. ولا يجوز له أخذ اللقطة بأنواعها إلا إذا أمن نفسه عليها وقوى على تعريف ما يحتاج إلى تعريف؛ لحديث زيد بن خالد الجهني ﵁؛ قال: سئل النبي ﷺ عن لقطة الذهب والورق؟ فقال: "اعرف وكاءها وعفاصها، ثم عرفها سنة، فإن لم تعرف؛ فاستنفقها، ولتكن وديعة عندك، فإن جاء طالبها يوما من الدهر؛ فادفعها إليه"، وسأله
١ أي: أخذها وتركها دون بيع أو ذبح.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie