al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[3. Dalam ju‘alah diperbolehkan menggabungkan pekerjaan dan batas waktu sekaligus; misalnya: “Siapa yang menjahit pakaian ini dalam satu hari, maka ia memperoleh sekian.” Jika ia menjahitnya dalam hari itu, ia berhak atas imbalan; jika tidak, ia tidak mendapat apa-apa. Adapun pada ijārah, penggabungan pekerjaan dan batas waktu tidak sah.
4. Pekerja dalam ju‘alah tidak berkewajiban untuk melaksanakan pekerjaan; sedangkan pada ijārah pekerja terikat untuk menyelesaikannya.
5. Dalam ju‘alah tidak disyaratkan penetapan siapa pekerjanya; sedangkan pada ijārah hal itu merupakan syarat.
6. Ju‘alah adalah akad ja’iz: masing-masing pihak berhak membatalkannya tanpa izin pihak lain. Berbeda dengan ijārah yang merupakan akad lazim; salah satu pihak tidak boleh membatalkannya kecuali dengan persetujuan pihak lainnya.

Para fuqahā’ رحمهُم الله menjelaskan bahwa siapa pun yang mengerjakan suatu pekerjaan untuk orang lain tanpa ju‘alah dan tanpa izin pemilik pekerjaan, ia tidak berhak mendapatkan apa pun, karena ia telah memberikan manfaat tanpa kompensasi; seseorang tidak dibebani sesuatu yang tidak ia sepakati. Akan tetapi terdapat dua pengecualian:

  1. Bila pekerja memang menawarkan dirinya untuk bekerja dengan upah, seperti makelar, kuli angkut, dan sejenisnya; maka apabila ia bekerja atas izin, ia berhak menerima upah karena kebiasaan (‘urf) menunjukkannya. Siapa yang tidak menawarkan dirinya untuk bekerja tidak berhak atas apa pun meskipun diizinkan, kecuali dengan syarat khusus.
  2. Orang yang menyelamatkan harta milik orang lain dari kebinasaan, seperti mengeluarkannya dari laut…]
ومنها: أن الجُعالة يجوز فيها الجمع بين العمل والمدة، كأن يقول: من خاط هذا الثوب في يوم؛ فله كذا، فإن خاطه في اليوم؛ استحق الجُعل، وإلا؛ فلا؛ بخلاف الإجارة؛ فإنها لا يصح فيها الجمع بين العمل والمدة. ومنها: أن العامل في الجُعالة لم يلتزم العمل؛ بخلاف الإجارة؛ فإن العامل فيها قد التزم بالعمل. ومنها: أن الجُعالة لا يشترط فيها تعيين العامل؛ بخلاف الإجارة؛ فإنها يشترط فيها ذلك. ومنها: أن الجعالة عقد جائز لكل من الطرفين فسخها بدون إذن الآخر؛ بخلاف الإجارة؛ فإنها عقد لازم لا يجوز لأحد الطرفين فسخها؛ إلا برضى الطرف الآخر. وقد ذكر الفقهاء ﵏ أن من عمل لغيره عملاً بغير جُعل ولا إذن من صاحب العمل؛ لم يستحق شيئا؛ لأنه بذل منفعة من غير عوض، فلم يستحقه، ولأنه لا يلزم الإنسان شيء لم يلتزمه؛ إلا أنه يستثني من ذلك شيئان: الأول: إذا كان العامل قد أعد نفسه للعمل بالأجرة كالدلال والحمال ونحوهما؛ فإنه إذا عمل عملاً بإذن يستحق الأجرة، لدلالة العرف على ذلك، ومن لم يعد نفسه للعمل؛ لم يستحق شيئا، ولو أذن له؛ إلا بشرط. الثاني: من قام بتخليص متاع غيره من هلكة؛ كإخراجه من البحر

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie