al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[…penerima titipan, selain orang yang berkhianat, tidak menanggung ganti rugi. Kata al-mughl berarti orang yang berkhianat. Dalam riwayat lain disebutkan: “Tidak ada tanggungan atas orang yang dipercaya.” Sebab penerima titipan menjaganya secara cuma-cuma; andai ia diwajibkan mengganti, niscaya orang-orang enggan menerima titipan, sehingga masyarakat dirugikan dan kemaslahatan terhenti.

Adapun orang yang melampaui batas terhadap barang titipan atau lalai menjaganya, maka ia wajib mengganti bila barang itu rusak, karena ia telah merusak harta orang lain.

Di antara hukum titipan pula: penerima titipan wajib menaruhnya di tempat aman yang sepadan, sebagaimana ia menjaga hartanya sendiri. Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menunaikan amanat…,” dan amanat tidak mungkin ditunaikan kecuali dengan menjaganya. Lagi pula, ketika menerima titipan ia telah berkomitmen untuk menjaganya; maka ia terikat oleh komitmennya itu.

Apabila barang titipan itu seekor hewan, penerima titipan wajib memberinya makan; jika ia menghentikan pakannya tanpa izin pemilik sehingga hewan itu mati, ia wajib mengganti, karena memberi pakan hewan memang diperintahkan. Selain menanggung ganti rugi, ia juga berdosa karena menelantarkan hewan tanpa pakan atau minum hingga mati, sebab memberi pakan dan minum hewan adalah kewajiban sebagai hak Allah Ta‘ala, dan hewan memiliki kehormatan.

Penerima titipan boleh menyerahkan barang titipan kepada orang yang lazimnya menjaga hartanya sendiri—seperti istrinya, budaknya, bendaharanya, atau pembantunya—dan bila barang itu rusak di tangan salah seorang dari mereka tanpa unsur pelampauan atau kelalaian, ia tidak wajib mengganti, karena ia boleh menjaga sendiri atau menunjuk orang yang menggantikannya,]

المستودَع غير المُغِل ضمان"، والمُغِل: الخائن، وفي رواية بلفظ: "لا ضمان على مؤتمن"، ولأن المستودَع يحفظها تبرعا، فلو ضمن؛ لامتنع الناس من قبول الودائع، فيترتب على ذلك الضرر بالناس وتعطل المصلحة. أما المعتدي على الوديعة أو المفرط في حفظها؛ فإنه يضمنها إذا تلفت؛ لأنه متلف لمال غيره. ومن أحكام الوديعة: أنه يجب على المودَع حفظها في حرز مثلها كما يحفظ ماله؛ لأن الله تعالى أمر بأدائها في قوله: ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ﴾ ، ولا يمكن أداؤها إلا بحفظها، ولأن المودَع حينما قبل الوديعة؛ فقد التزم بحفظها، فيلزمه ما التزم به. وإذا كانت الوديعة دابة؛ لزم المودَع إعلافها، فلو قطع العلف عنها بغير أمر صاحبها، فتلفت؛ ضمنها؛ لأن إعلاف الدابة مأمور به، ومع كونه يضمنها؛ فإنه يأثم أيضا بتركه إعلافها أو سقيها حتى ماتت؛ لأنه يجب عليه علفها وسقيها لحق الله تعالى، لأن لها حرمة. ويجوز للمودَع أن يدفع الوديعة إلى من يحفظ ماله عادة؛ كزوجته وعبده وخازنه وخادمه، وإن تلفت عند أحد من هؤلاء من غير تعد ولا تفريط؛ لم يضمن؛ لأن له أن يتولى حفظها بنفسه أو من يقوم مقامه،

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie