—atas akibat apa pun yang timbul darinya; karena ia membunuhnya semata-mata untuk menolak kejahatannya. Bahkan, apabila ia membunuh si penyerang demi menepis bahayanya, hakikatnya penyerang itulah yang membunuh dirinya sendiri.
Syaikh Taqiyuddin berkata, “Ia wajib menolak penyerang; jika penyerang tidak dapat dihentikan kecuali dengan dibunuh, maka ia boleh melakukannya menurut kesepakatan para ulama.”
Barang-barang yang dimusnahkan namun tidak menimbulkan kewajiban ganti rugi antara lain: alat-alat hiburan yang haram, salib, wadah-wadah khamar, serta buku-buku kesesatan, takhayul, pornografi, dan kefasikan. Hal ini berdasarkan riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Umar: “Nabi ﷺ memerintahkanku mengambil sebilah pisau kecil, lalu beliau keluar ke pasar-pasar Madinah; di sana terdapat kantong-kantong khamar yang baru didatangkan dari Syam. Aku pun merobeknya di hadapan beliau, dan beliau memerintahkan para sahabatnya melakukan hal yang sama.” Hadis ini menunjukkan bolehnya memusnahkan barang-barang tersebut tanpa kewajiban ganti rugi. Namun, pemusnahan itu harus dilakukan atas perintah dan pengawasan pihak berwenang demi menjaga kemaslahatan dan menolak kemudaratan.