al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Shafwan bin Umayyah berupa beberapa baju besi.

Memberikan barang pinjam-pakai kepada orang yang membutuhkannya merupakan suatu bentuk pendekatan diri kepada Allah yang menghasilkan pahala besar bagi sang pemberi, karena ia termasuk dalam keumuman perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Syarat sah pinjam-pakai ada empat:

  1. Pemberi pinjam-pakai harus cakap untuk berderma, sebab pinjam-pakai adalah bentuk sedekah; karenanya tidak sah dilakukan oleh anak kecil, orang gila, atau orang yang boros/tidak cakap mengelola harta.
  2. Peminjam harus cakap menerima hibah, yakni penerimaannya sah secara hukum.
  3. Manfaat dari barang yang dipinjam-pakai harus mubah; maka tidak boleh meminjamkan budak muslim kepada orang kafir, atau hewan buruan dan sejenisnya kepada orang yang sedang ihram, berdasarkan firman Allah Taʿala: “Dan janganlah kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
  4. Barang yang dipinjam-pakai harus termasuk benda yang manfaatnya dapat diambil sementara wujudnya tetap lestari, sebagaimana telah diterangkan.

Pemilik berhak menarik kembali barang pinjam-pakai kapan saja ia mau, kecuali bila penarikan itu menimbulkan mudarat bagi peminjam; misalnya ia meminjamkan kapal untuk mengangkut barang—maka ia tidak boleh menariknya selama kapal masih berada di laut—atau meminjamkan dinding agar peminjam dapat menyandarkan ujung-ujung kayunya—maka ia tidak boleh menarik kembali dinding itu selama kayu-kayu tersebut masih bertumpu di atasnya.

Peminjam berkewajiban menjaga barang pinjam-pakai lebih sungguh-sungguh daripada ia menjaga hartanya sendiri, agar dapat mengembalikannya kepada pemiliknya dalam keadaan utuh, berdasarkan firman Allah Taʿala: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar …”

صفوان بن أمية أدراعا. وبذل العارية للمحتاج إليها قربة بها المعير ثوابا جزيلاً؛ لأنها تدخل في عموم التعاون على البر والتقوى. ويشترط لصحة الإعارة أربعة شروط: أحدها: أهلية المعير للتبرع؛ لأن الإعارة فيها نوع من التبرع؛ فلا تصح من غير ولا مجنون وسفيه. الشرط الثاني: أهلية المستعير للتبرع له؛ بأن يصح منه القبول. الشرط الثالث: كون نفع العين المعارة مباحا؛ فلا تباح إعارة عبد مسلم لكافر ولا صيد ونحوه لمحرم؛ لقوله تعالى: ﴿وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾ . الشرط الرابع: كون العين المعارة مما يمكن الانتفاع به مع بقائه كما سبق. وللمعير استرجاع العارية متى شاء إلا إذا ترتب على ذلك الإضرار بالمستعسر؛ كما لو أذن له بشغله بشيء يتضرر المستعير إذا استرجعت العارية؛ كما لو أعاره سفينة لحمل متاعه؛ فليس له الرجوع ما دامت في البحر، وكما لو أعاره حائطا ليضع عليه أطراف خشبه؛ فليس له الرجوع في الحائط ما دام عليه أطراف الخشب. ويجب على المستعير: المحافظة على العارية أشد مما يحافظ على ماله؛ ليردها سليمة إلى صاحبها؛ لقوله تعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie