al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

tanah pertanian; maka hikmah pensyariatan menuntut bolehnya akad bagi hasil pertanian agar kedua pihak sama-sama memperoleh manfaat—yang satu dengan tanahnya, yang lain dengan kerjanya—dan terjalin kerja sama untuk meraih kemaslahatan serta menolak mudarat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah merahmatinya—berkata, “Akad bagi hasil pertanian merupakan cabang dari akad sewa-menyewa, karena keduanya sama-sama berbagi untung dan rugi.”

Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata, “Akad ini lebih jauh dari unsur kezaliman dan kerugian dibandingkan sewa-menyewa; sebab pada sewa-menyewa salah satu pihak pasti berada pada posisi untung. Adapun bagi hasil pertanian, jika tanaman berhasil keduanya berbagi hasil, dan jika gagal keduanya sama-sama tidak mendapat apa-apa.”

Syarat sahnya akad bagi hasil pertanian adalah: (1) bagian hasil yang menjadi hak penggarap atau pemilik lahan harus dijelaskan, dan (2) bagian tersebut harus berupa jatah tidak terbagi dari keseluruhan, misalnya sepertiga atau seperempat dari apa yang dihasilkan tanah. Hal ini karena Nabi ﷺ bermuafakat dengan penduduk Khaibar untuk mendapatkan setengah dari hasil yang keluar dari tanah mereka. Bila porsi salah satu pihak telah ditentukan, maka sisanya otomatis menjadi milik pihak lain; sebab hasil panen memang milik keduanya—ketika bagian salah satu ditetapkan, bagian pihak lain pun menjadi jelas.

Jika disyaratkan kepada salah satu pihak sejumlah takaran tertentu—seperti sepuluh shaʽ—atau hasil dari petak tertentu, sedangkan sisanya milik pihak lain, maka akadnya tidak sah. Demikian pula apabila pemilik tanah mensyaratkan bahwa ia akan mengambil hasil sebesar benih yang ia keluarkan lalu sisanya dibagi bersama, akad tersebut tidak sah; karena boleh jadi hasil panen tidak lebih dari itu sehingga ia mengambil semuanya dan penggarap tidak mendapat apa-apa.

Hadis Rafiʽ bin Khadij radhiyallahu ʽanhu menyatakan, “Menyewakan tanah dengan emas atau perak tidak mengapa; dahulu orang-orang menyewakan tanah pada masa …”

أرضا زراعية؛ فاقتضت الحكمة التشريعية جواز المزارعة؛ لينتفع الطرفان: هذا بأرضه، وهذا بعمله، وليحصل التعاون على تحصيل المصلحة ودفع المضرة. قال شيخ الإسلام ابن تيمية يرحمه الله: "المزارعة أصل من الإجارة؛ لاشتراكهما في المغنم والمغرم". وقال الإمام ابن القيم ﵀: "هي أبعد عن الظلم والضرر من الإجارة؛ فإن أحدهما غانم ولا بد [يعني: في الإجارة] . وأما المزارعة؛ فإن حصل الزرع؛ اشتركا فيه، وإلا اشتركا في الحرمان". ويشترط لصحة المزارعة: بيان مقدار ما للعامل أو لصاحب الأرض من الغلة، وأن يكون جزءًا مشاعا منها؛ كثلث ما يخرج من الأرض أو ربعه ونحو ذلك؛ لأن النبي ﷺ عامل أهل خيبر بشطر ما يخرج منها، وإذا عرف نصيب أحدهما؛ فالباقي يكون للآخر؛ لأن الغلة لهما، فإذا عين نصيب أحدهما؛ تبين نصيب الآخر، ولو شرط لأحدهما آصعا معلومة كعشرة آصع أو زرع ناحية معينة من الأرض والباقي للآخر؛ لم تصح، أو اشترط صاحب الأرض أن يأخذ مثل بذره ويقتسمان الباقي؛ لم تصح المزارعة؛ لأنه قد لا يهرج من الأرض إلا ذلك، فيختص به دون الآخر، ولحديث رافع بن خديج ﵁؛ قال: "كراء الأرض بالذهب والفضة لا يأس به، كان الناس يؤاجرون على عهد

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie