al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

serta membawa maslahat bagi kedua belah pihak.” —selesai kutipan.

Para fuqaha menyebutkan bahwa syarat sahnya akad musāqāt ialah pohon yang disirami harus menghasilkan buah yang dapat dimakan; maka akad ini tidak berlaku untuk pohon yang tidak berbuah, atau berbuah tetapi tidak dapat dimakan, karena hal tersebut tidak terdapat dalam nash.

Di antara syarat sah musāqāt adalah bagian pekerja ataupun pemilik harus ditentukan sebagai persentase tertentu dari keseluruhan buah—seperti sepertiga atau seperempat—baik besar maupun kecil. Jika keduanya mensyaratkan seluruh hasil untuk salah satu pihak, akad tidak sah karena hanya satu pihak yang menikmati hasil. Demikian pula, jika disyaratkan takaran tertentu dari buah, misalnya sepuluh atau dua puluh ṣāʿ, akad tidak sah; sebab boleh jadi hasilnya hanya sebesar itu, sehingga hanya pihak yang disyaratkan yang memperolehnya. Hal yang sama berlaku bila disyaratkan sejumlah dirham tertentu; akad tidak sah karena hasilnya mungkin tidak menyamai nilainya. Demikian juga apabila salah satu pihak disyaratkan memperoleh buah dari pohon tertentu atau beberapa pohon tertentu, musāqāt tidak sah; sebab bisa jadi selain pohon itu tidak berbuah sehingga hanya satu pihak yang mendapatkan hasil, atau pohon tersebut sama sekali tidak berbuah, sehingga pihak yang mensyaratkan kehilangan hasil—semuanya menimbulkan gharar dan mudarat.

Menurut jumhur, pendapat yang benar adalah bahwa musāqāt merupakan akad lazim yang tidak boleh dibatalkan kecuali dengan kerelaan pihak lain.

Jangka waktunya harus ditentukan, sekalipun lama, selama pohonnya masih ada.

Pekerja berkewajiban melakukan semua yang mendatangkan kemaslahatan bagi buah, seperti membajak tanah, menyirami, menyingkirkan ranting yang merugikan pohon dan buah, menyerbukkan kurma, serta mengeringkan

وتحصيل لمصلحة الفئتين" انتهى. وقد ذكر الفقهاء ﵏ أنه يشترط لصحة المساقاة أن يكون الشجر المسقى عليه له ثمر يؤكل؛ فلا على شجر لا ثمر له، أو له ثمر لا يؤكل؛ لأن ذلك غير منصوص عليه. ومن شروط صحة المساقاة: تقدير نصيب العامل أو المالك بجزء معلوم مشاع من الثمرة؛ كالثلث والربع، سواء قل الجزء المشروط أو كثر، فلو شرطا كل الثمرة لأحدهما؛ لم يصح؛ لاختصاص أحدهما بالغلة، أو شرطا آصعا وعلومة من الثمرة؛ كعشرة آصع، أو عشرين صاعا؛ لم يصح؛ لأنه قد لا يحصل إلا ذلك، فيختص به من شرط له دون الآخر، وكذا لو شرط له في المساقاة دراهم معينة؛ لم تصح؛ لأنه قد لا يحصل من الغلة ما يساويها، وكذا لو شرط لأحدهما ثمرة شجرة معينة أو أشجار معينة؛ لم تصح المساقاة؛ لأنه قد لا يحصل من الشجر غير تلك المعينة، فيختص بالغلة أحدهما دون الآخر، أو لا تحمل تلك الشجرة أو الأشجار المعينة، فينحرم المشروط له من الغلة، ويحصل الغرر والضرر. والصحيح الذي عليه الجمهور أن المساقاة عقد لازم لا يجوز فسخها إلا برضى الآخر. ولا بد من تحديد مدتها، ولو طالت، مع بقاء الشجر. ويلزم العامل كل ما فيه صلاح الثمرة؛ من حرث، وسقي، وإزالة ما يضر الشجر والثمرة من الأغصان، وتلقيح النخل، وتجفيف

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie