Dalil kebolehan akad musāqāt dan muzāraʿah adalah hadits Ibnu ‘Umar r.a.: “Nabi ﷺ bermuamalat dengan penduduk Khaibar dengan ketentuan setengah dari apa yang dihasilkan, baik buah maupun tanaman,” hadis ini disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim. Muslim juga meriwayatkan: “Nabi ﷺ menyerahkan kebun kurma dan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi Khaibar agar mereka mengelolanya dengan biaya mereka sendiri, dan bagi mereka separuh buahnya,” yakni setengahnya. Imam Ahmad meriwayatkan: “Nabi ﷺ menyerahkan tanah dan kebun Khaibar kepada penduduknya dengan bagi hasil separuh.” Hadits-hadits ini menunjukkan keabsahan akad musāqāt.
Imam Ibnu al-Qayyim berkata, “Kisah Khaibar menjadi dalil bolehnya musāqāt dan muzāraʿah dengan bagian tertentu dari hasil, baik buah maupun tanaman; sebab Nabi ﷺ bermuamalat dengan penduduk Khaibar dan hal itu tetap berlangsung sampai beliau wafat, tidak pernah dinasakh sedikit pun, bahkan terus diamalkan oleh para khalifah Rāsyidīn. Akad ini bukan sewa-menyewa, melainkan kemitraan, setara dengan mudhārabah.”
Al-Muwaffaq Ibnu Qudāmah menambahkan, “Para khalifah Rāsyidīn mengamalkan akad ini sepanjang masa kekhilafahan mereka; praktik tersebut masyhur dan tidak ada yang mengingkarinya, sehingga menjadi ijmaʿ. Tidak boleh bersandar pada pendapat yang bertentangan dengan hadits dan ijmaʿ. Banyak pemilik kebun kurma dan pohon lainnya tidak sanggup merawat dan menyiraminya serta tidak mampu menggaji pekerja; sementara banyak orang tidak memiliki pohon tetapi memerlukan buahnya. Dengan membolehkannya, kedua kebutuhan ini dapat terpenuhi.”