al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[…tentang wali anak yatim: “Dan barang siapa berkecukupan hendaklah ia menahan diri; dan barang siapa fakir maka hendaklah ia makan secara patut,” yakni seukuran jasanya dalam mengurusnya.

Para ahli fikih berkata: ia boleh mengambil yang lebih sedikit di antara dua hal, yaitu upah sebanding dengan pekerjaannya atau sebesar kebutuhannya.

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Aku mempunyai seorang yatim yang memiliki harta, sedangkan aku tidak punya harta; bolehkah aku memakan dari hartanya?” Beliau bersabda, “Makanlah secara ma‘ruf, tanpa berlebih-lebihan.”

Adapun apa pun yang melewati batas yang Allah perkenankan ini, tidak halal dimakan dari harta yatim; sebab Allah telah mengancamnya dengan ancaman yang sangat keras. Allah Ta‘ālā berfirman, “Dan janganlah kalian memakannya secara boros dan tergesa-gesa sebelum mereka dewasa.” Dan Dia juga berfirman, “Dan janganlah kalian mencampuradukkan harta mereka dengan harta kalian; sesungguhnya hal itu adalah dosa besar.” Maksudnya: memakan harta mereka bersama harta kalian adalah dosa besar dan kesalahan yang amat berat, maka jauhilah. Serta firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, hanyalah menelan api ke dalam perut mereka, dan kelak mereka akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

Al-Imām Ibnu Katsir berkata, “Yakni, apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang benar, sesungguhnya mereka hanya menelan api yang berkobar di perut mereka pada hari Kiamat.”

Dalam Ash-Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah…"]

في والي اليتيم: ﴿وَمَنْ كَانَ غَنِيّاً فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ﴾ بقدر قيامه عليه". قال الفقهاء: له أن يأخذ أقل الأمرين أجره مثله أو قدر حاجته، روي أن رجلاً جاء إلى النبي ﷺ، فقال: إن عندي يتيما عنده مال وليس لي مال؛ أآكل من ماله؟ قال: " كل بالمعروف غير مسرف "، أما ما زاد عن هذا الحد الذي رخص الله فيه؛ فلا يجوز أكله من مال اليتيم؛ فقد توعد الله عليه بأشد الوعيد، قال تعالى: ﴿وَلا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافاً وَبِدَاراً أَنْ يَكْبَرُوا﴾ ، وقال تعالى: ﴿وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوباً كَبِيراً﴾ ؛ أي: إن أكلكم أموالهم مع أموالكم إثم عظيم وخطأ كبير فاجتنبوه، وقال تعالى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَاراً وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيراً﴾ . قال الإمام ابن كثير: "أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب؛ فإنما يأكلون نارًا تتأجج في بطونهم يوم القيامة". وفي "الصحيحين" عن أبي هريرة؛ أن رسول الله ﷺ قال: "اجتنبوا

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie