al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Para ulama telah sepakat bahwa penjaminan pada dasarnya boleh.
Maslahat memang menuntutnya; bahkan kadang kebutuhan mendesak mengharuskannya. Ia termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, membantu memenuhi kebutuhan seorang muslim, serta meringankan kesusahannya.
Syarat sahnya ialah: penjamin harus cakap bertindak menurut syariat, karena ia menanggung harta; maka tidak sah dilakukan oleh anak kecil atau orang dungu yang berada di bawah pengampuan. Disyaratkan pula kerelaannya; apabila ia dipaksa menjadi penjamin, penjaminan tidak sah, sebab penjaminan adalah sumbangan sukarela untuk memikul suatu hak, sehingga kerelaan dipersyaratkan sebagaimana dalam hibah harta.
Penjaminan adalah akad yang bertujuan memberi manfaat dan bantuan kepada pihak yang dijamin; karena itu tidak boleh dipungut imbalan darinya. Mengambil imbalan atas penjaminan menyerupai pinjaman yang mendatangkan keuntungan. Penjamin wajib melunasi utang pihak yang dijamin saat ditagih; setelah ia membayar kepada pemilik piutang, ia akan menagih kembali kepada pihak yang dijamin dalam bentuk pinjaman. Ini menjadi pinjaman yang mendatangkan manfaat, sehingga harus dihindari. Tujuan penjaminan hendaknya semata-mata untuk tolong-menolong dan memberi keringanan, bukan untuk mengekspolitasi dan memberatkan orang yang membutuhkan.
Penjaminan sah diucapkan dengan lafaz: “ana ḍamīn” (saya penjamin), “ana qabīl”, “ana ḥamīl”, “ana zaʿīm”, atau dengan lafaz: “taḥammaltu daynak” (saya menanggung utangmu), “ḍamintuhu” (saya menjaminnya), “huwa ʿindī” (dia menjadi tanggungan saya), dan setiap ungkapan lain yang memuat makna penjaminan; karena syariat tidak membatasi dengan redaksi tertentu, maka dikembalikan kepada kebiasaan.
Pemilik hak berhak menuntut siapa saja yang ia kehendaki, penjamin maupun orang yang dijamin, karena haknya melekat pada keduanya; maka ia boleh menuntut salah satu dari keduanya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

وقد أجمع العلماء على جواز الضمان في الجملة. والمصلحة تقتضي ذلك، بل قد تدعو الحاجة والضرورة إليه، وهو من التعاون على البر والتقوى، ومن قضاء حاجة المسلم، وتنفيس كربته. ويشترط لصحته: أن يكون الضامن جائز التصرف؛ لأنه تحمل مال؛ فلا يصح من صغير ولا سفيه محجور عليه، ويشترط رضاه أيضا، فإن أكره على الضمان؛ لم يصح لأن الضمان تبرع بالتزام الحق، فاعتبر له الرضى كالتبرع بالأموال. والضمان عقد يقصد به نفع المضمون وإعانته؛ فلا يجوز أخذ العوض عليه، ولأن أخذ العوض عليه، ولأن أخذ العوض على الضمان يكون كالقرض الذي جر نفعا؛ فالضمان يلزم أداء الدين عن المضمون عند مطالبته بذلك، فإذا أداه للمضمون له؛ فإنه سيسترده من المضمون عنه على صفة القرض، فيكون قرضا جر نفعا، فيجب الابتعاد عن مثل هذا، وأن يكون الضمان مقصودًا به التعاون والإرفاق، لا الاستغلال وإرهاق المحتاج. ويصح الضمان بلفظ: أنا ضمين، أو: أنا قبيل، أو: أنا حميل، أو: أنا زعيم، وبلفظ: تحملت دينك، أو: ضمنته، أو: هو عندي، وبكل لفظ يؤدي معنى الضمان؛ لأن الشارع لم يحد ذلك بعبارة معينة، فيرجع فيه إلى العرف. ولصاحب الحق أن يطالب من شاء من الضامن أو المضمون؛ لأن حقه ثابت في ذمتهما؛ فملك مطالبة من شاء منهما، ولقوله ﷺ:

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie