al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Bab tentang Hukum-hukum Gadai
Secara bahasa, gadai bermakna tetap dan terus-menerus; orang Arab berkata: مَاءٌ رَاهِنٌ—air yang tenang. Secara syar‘i, gadai adalah penetapan utang dengan suatu barang yang dapat dilunasi darinya atau dari hasil penjualannya; yakni menjadikan sebuah benda bernilai sebagai jaminan atas utang.

Gadai dibolehkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan jika kamu dalam perjalanan lalu tidak menemukan juru tulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang.”

Nabi ﷺ wafat sementara baju besinya masih tergadai. Para ulama sepakat bolehnya akad gadai ketika safar, dan jumhur (mayoritas) juga membolehkannya saat mukim.

Hikmah disyariatkannya akad ini ialah menjaga harta dan menghindarkannya dari kerugian atau hilang.]

باب في أحكام الرهن الرهن لغة: يراد به الثبوت والدوام، يقال: ماء راهن؛ أي: راكد. والرهن شرعا: توثقة دين بعين يمكن استيفاؤه منها أو من ثمنها؛ أي: جعل عين مالية وثيقة بدين. والرهن جائز بالكتاب والسنة والإجماع. قال تعالى: ﴿وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِباً فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ﴾ . وقد توفى النبي ﷺ ودرعه مرهونة. وأجمع العلماء على جواز الرهن في السفر، والجمهور أجازوه أيضا في الحضر. والحكمة في مشروعيته: حفظ الأموال، والسلامة من الضياع.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie