al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[dan menyia-nyiakan harta; padahal Nabi ﷺ telah melarang menyia-nyiakan harta.

Menurut pendapat terkuat di kalangan para ulama, diperbolehkan menjual tanaman yang dapat terus-menerus dipanen, seperti alfalfa (rumput pakan), sayur-sayuran daun, mentimun, dan terung; sehingga boleh menjual hasil petikan maupun tebasannya, baik yang sedang ada maupun yang akan datang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Pendapat yang benar, tanaman-tanaman tersebut tidak termasuk dalam larangan Nabi ﷺ; akad atas hasil petikan yang sudah ada maupun yang belum ada tetap sah sampai kebun mentimun itu mengering, karena kebutuhan menuntut hal tersebut. Oleh karena itu, boleh menjual kebun mentimun tanpa pokoknya.”

Al-‘Allāmah Ibnu al-Qayyim rahimahullah menambahkan: “Beliau ﷺ hanya melarang penjualan buah-buahan yang penjualannya masih bisa ditangguhkan sampai tampak tanda matangnya; maka kebun mentimun tidak tercakup dalam larangan tersebut.”]

وإضاعة للمال، وقد نهى النبي ﷺ عن إضاعة المال. ويجوز على الصحيح من قولي العلماء بيع ما يتكرر أخذه كالقت والبقل والقثاء والباذنجان؛ فيجوز بيع لقطته وجزته الحاضرة والمستقبلة. قال شيخ الإسلام ابن تيمية ﵀: "الصحيح أن هذه لم تدخل في نهي النبي ﷺ، بل يصح العقد على اللقطة الموجودة واللقطة المعدومة إلى أن تيبس المقثاة؛ لأن الحاجة داعية إلى ذلك، فيجوز بيع المقاثي دون أصولها". وقال العلامة ابن القيم ﵀: "وإنما نهى عن بيع الثمار التي يمكن تأخير بيعها حتى يبدو صلاحها، فلم تدخل المقاثي في نهيه" انتهى.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie