al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

kemudian imam membagikan empat per lima yang tersisa kepada para prajurit; bagi prajurit pejalan satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda tiga bagian: satu bagian untuk dirinya dan dua bagian untuk kudanya, karena Rasulullah ﷺ pada Perang Khaibar memberikan kepada penunggang kuda tiga bagian—dua untuk kudanya dan satu untuk dirinya—riwayat yang disepakati.

Wakil imam boleh menggantikan beliau dalam pembagian ganimah.

Haram hukumnya melakukan ghulul, yaitu menyembunyikan sebagian harta rampasan yang diperoleh. Allah Ta‘ala berfirman, “Tidak pantas seorang nabi berkhianat; barang siapa berkhianat, niscaya pada Hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya.” Pelaku ghulul wajib dijatuhi hukuman ta‘zīr sesuai pertimbangan imam agar menjadi efek jera bagi dirinya dan orang-orang semisalnya.

Apabila rampasan berupa tanah, imam boleh memilih antara membaginya kepada para pejuang atau menjadikannya wakaf untuk kemaslahatan kaum Muslimin, serta mengenakan kharaj berkelanjutan yang dipungut dari pihak yang mengelolanya.

Segala harta yang ditinggalkan orang kafir karena takut kepada kaum Muslimin, harta orang yang tidak mempunyai ahli waris, dan seper­lima dari seper­lima ganimah—yakni bagian Rasulullah ﷺ—termasuk fai’ yang dialokasikan untuk kepentingan kaum Muslimin.

Imam kaum Muslimin boleh mengadakan gencatan senjata dengan orang-orang kafir untuk menghentikan pertempuran dalam jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan apabila di dalamnya terdapat maslahat bagi kaum Muslimin, yakni ketika jihad boleh ditunda karena kelemahan mereka. Namun bila kaum Muslimin kuat dan mampu berjihad, maka tidak boleh mengadakan gencatan senjata, sebab Rasulullah ﷺ hanya mengadakan gencatan dengan orang-orang kafir pada Perjanjian Hudaibiyah dan berdamai dengan kaum Yahudi di Madinah.

ثم يقسم الأخماس الأربعة الباقية على المقاتلين؛ للراجل سهم، وللفارس ثلاثة أسهم، سهم له، وسهمان لفرسه؛ لأنه ﷺ أسهم يوم خيبر للفارس ثلاثة أسهم: سهمان لفرسه، وسهم له، متفق عليه. ويقوم مقام الإمام في توزيع الغنيمة نائبة. ويحرم الغلول، وهو كتمان شيء مما غنمه المقاتل، قال تعالى: ﴿وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾ ، ويجب تعزير الغال بما يراه الإمام رادعا ولأمثاله. وإذا كانت الغنيمة أرضا؛ خير الإمام بين قسمتها ين الغانمين، وبين وقفها لمصالح المسلمين، ويضرب عليها خراجا مستمرًا يؤخذ ممن هي بيده. وما تركه الكفار فزعا من المسلمين، ومال من لا وارث له، وخمس خمس الغنيمة وهو سهم رسول الله ﷺ؛ فهو فيء يصرف في مصالح المسلمين. ويجوز لإمام المسلمين عقد الهدنة مع الكفار على ترك القتال مدة معلومة بقدر الحاجة إذا كان في عقدها مصلحة للمسلمين، وذلك إذا جاز تأخير الجهاد من أجل ضعف المسلمين، أما إن كان المسلمون أقوياء يقدرون على الجهاد؛ فلا يجوز عقد الهدنة؛ لأنه ﷺ عقد الهدنة مع الكفار في صلح الحديبية، وصالح اليهود في المدينة.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie