[Maka apabila seorang haji hendak bepergian meninggalkan Mekah untuk pulang ke negerinya atau ke tempat lain, ia tidak boleh keluar sebelum melakukan thawaf wada‘ di Baitullah sebanyak tujuh putaran, setelah semua urusannya selesai dan hanya tinggal menaiki kendaraan untuk berangkat, agar pertemuan terakhirnya adalah dengan Baitullah. Kecuali perempuan yang sedang haid; ia tidak terkena kewajiban thawaf wada‘, sehingga ia boleh berangkat tanpa thawaf; sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbās, ia berkata: “Manusia diperintahkan agar akhir pertemuan mereka dengan Baitullah; tetapi keringanan diberikan bagi perempuan yang haid,” muttafaqun ‘alaih. Dalam riwayat lain beliau berkata: “Dahulu orang-orang pulang dari segala penjuru, lalu Nabi ﷺ bersabda: ‘Janganlah seorang pun berangkat sebelum akhir pertemuannya dengan Baitullah’,” diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abū Dāwud, dan Ibnu Mājah. Juga dari Ibnu ‘Abbās: “Bahwa Nabi ﷺ memberi keringanan bagi perempuan yang haid untuk meninggalkan Mekah sebelum thawaf di Baitullah apabila ia telah melakukan thawaf ifādah,” diriwayatkan oleh Ahmad. Dan dari ‘Āisyah, ia berkata: “Ṣafiyyah binti Ḥuyay menstruasi setelah melaksanakan thawaf ifādah.” Ia berkata: “Aku pun menyebutkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: ‘Apakah ia menahan kita?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, ia telah melakukan thawaf ifādah dan thawaf di Baitullah, lalu haid setelah thawaf ifādah.’ Beliau bersabda: ‘Kalau begitu, biarkan ia berangkat’,” muttafaqun ‘alaih.]