[dan Ibnu ‘Umar berkata, “Kami menunggu-nunggu; apabila matahari sudah tergelincir barulah kami melempar,” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Abu Dawud. Ucapan beliau “nataḥayyan” artinya mengamati waktu yang ditentukan. Demikian pula sabda Nabi ﷺ: “Pelajarilah manasik kalian dariku.”
Maka waktu melempar pada hari kesebelas dan sesudahnya dimulai setelah matahari tergelincir; sebelumnya tidak sah karena hadis-hadis tersebut—Nabi ﷺ sendiri menetapkan waktunya melalui perbuatannya dan bersabda, “Ambillah manasik kalian dariku.” Sebagaimana shalat tidak boleh dilakukan sebelum waktunya, demikian pula melempar jumrah tidak boleh dilakukan sebelum waktunya, karena semua ibadah bersifat tawqifiyyah (hanya sah berdasarkan penetapan syariat).
Imam besar Ibnul-Qayyim ﵀, ketika menggambarkan cara Rasulullah ﷺ melempar sebagaimana tercantum dalam sunah yang suci, berkata: “Kemudian beliau ﷺ setelah thawaf ifadah kembali ke Mina pada hari itu juga dan bermalam di sana. Ketika pagi tiba, beliau menunggu sampai matahari tergelincir; setelah matahari tergelincir beliau berjalan dari tempat tinggalnya menuju jamarat tanpa berkendaraan. Beliau memulai dengan jumrah pertama yang paling dekat dengan Masjid al-Khif; beliau melemparnya dengan tujuh batu kerikil satu per satu, dan setiap melempar mengucapkan: ‘Allahu akbar.’ Lalu beliau maju ke depan jumrah itu hingga ke tempat yang agak landai, berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan dan berdoa panjang kira-kira sepanjang surah al-Baqarah. Setelah itu beliau datang ke jumrah tengah dan melemparnya dengan cara yang sama. Kemudian beliau menurun ke sisi kiri dari arah lembah, berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan, masuk ke tengah lembah dan menjadikan jumrah di antara beliau dan kiblat, lalu …]