—maka ia tetap melewatkan mata pisau cukur di atas kepalanya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Apabila aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka laksanakanlah semampu kalian.”
Setelah melempar Jumrah ‘Aqabah dan mencukur atau memendekkan rambutnya, segalanya yang sebelumnya diharamkan oleh ihram—seperti wewangian, pakaian, dan selainnya—menjadi halal baginya, kecuali perempuan. Hal ini didasarkan pada hadis ‘Aisyah ﵂: “Apabila kalian telah melempar (jumrah) dan mencukur (rambut), maka halal bagi kalian wewangian, pakaian, dan segala sesuatu, kecuali perempuan,” diriwayatkan oleh Sa‘īd. Dalam riwayat lain darinya: “Aku biasa memakaikan minyak wangi kepada Rasulullah ﷺ sebelum beliau berihram dan pada hari Nahr, sebelum beliau thawaf di Baitullah, dengan minyak wangi yang mengandung kasturi,” muttafaq ‘alaih.
Inilah tahallul pertama, yang tercapai dengan menunaikan dua dari tiga amalan berikut: melempar Jumrah ‘Aqabah, mencukur atau memendekkan rambut, dan thawaf Ifadah beserta sa‘i sesudahnya bagi yang masih berkewajiban sa‘i.
Tahallul kedua—yakni tahallul sempurna—diperoleh dengan melaksanakan ketiganya. Setelah itu selesai, segala sesuatu yang tadinya diharamkan oleh ihram menjadi halal baginya, termasuk perempuan.
Selanjutnya, setelah melempar Jumrah ‘Aqabah, menyembelih hadyu, dan mencukur atau memendekkan rambut, ia bertolak ke Mekah untuk melakukan thawaf Ifadah. Bila ia berhaji tamattu‘, qiran, atau ifrad dan belum melakukan sa‘i setelah thawaf qudum, ia melakukan sa‘i antara Shafa dan Marwah setelahnya.