Jam‘, karena orang-orang berkumpul di sana, dan disebut pula al-Masy‘ar al-Ḥarām. Dalam al-Mughnī disebutkan: “Muzdalifah memiliki tiga nama: Muzdalifah, Jam‘, dan al-Masy‘ar al-Ḥarām.”
Hendaklah ia banyak berzikir kepada Allah selama perjalanan menuju Muzdalifah, karena saat itu ia sedang menunaikan berbagai syiar haji dan berpindah di antara tempat-tempat suci tersebut.
Apabila telah tiba di Muzdalifah, ia menunaikan salat Magrib dan Isya secara jamak dengan memendekkan Isya menjadi dua rakaat, cukup dengan satu azan dan dua ikamah—setiap salat memiliki ikamah tersendiri—sebelum meletakkan barang-barang. Hal ini berdasarkan keterangan Jabir ﵁ yang menuturkan praktik Nabi ﷺ: “Hingga beliau sampai di Muzdalifah, lalu beliau salat Magrib dan Isya dengan satu azan dan dua ikamah.”
Setelah itu ia bermalam di Muzdalifah sampai tiba waktu subuh dan menunaikan salat Subuh, sebagaimana hadits Jabir: “Kemudian Rasulullah ﷺ berbaring hingga terbit fajar, lalu beliau salat Subuh ketika jelas waktu subuh bagi beliau dengan azan dan ikamah.”
Seluruh kawasan Muzdalifah disebut juga al-Masy‘ar al-Ḥarām, yaitu daerah yang terbentang antara dua celah bukit ‘Arafah hingga lembah Muḥassir. Nabi ﷺ bersabda: “Muzdalifah seluruhnya adalah tempat wukuf, namun tinggalkanlah lembah Muḥassir.”