dan beliau ﷺ juga memerintahkan ʿĀisyah untuk mandi guna ihram padahal ia sedang haid; hikmah mandi ini ialah membersihkan tubuh, menghilangkan bau yang tidak sedap, serta meringankan hadas bagi wanita haid maupun nifas.
Kedua: Disunahkan bagi orang yang hendak ihram untuk merapikan diri, yaitu dengan mengambil rambut-rambut yang disyariatkan untuk diambil seperti kumis, bulu ketiak, dan bulu kemaluan—apabila memang perlu diambil—agar kelak ia tidak memerlukannya saat sudah dalam keadaan ihram sehingga tidak dapat melakukannya. Jika tidak membutuhkan pencukuran apa pun, maka tidak usah mencukurnya; sebab hal itu dilakukan hanya ketika perlu dan bukan merupakan kekhususan ihram, melainkan disyariatkan sesuai kebutuhan.
Ketiga: Disunahkan bagi orang yang akan ihram untuk memakai wewangian pada badannya dengan apa saja yang ada, seperti misik, bakhur, air mawar, atau gaharu. ʿĀisyah radhiyallahu ʿanhā berkata, “Aku biasa memakaikan wewangian kepada Rasulullah ﷺ untuk ihramnya sebelum beliau berihram dan untuk tahallulnya sebelum beliau tawaf di Baitullah.”
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Apabila seseorang yang hendak ihram ingin memakai wewangian pada tubuhnya, itu baik; tetapi ia tidak diperintahkan untuk melakukannya, karena Nabi ﷺ melakukannya namun tidak memerintahkannya kepada orang-orang.”