[Allah Subḥānahu wa Taʿālā juga memerintahkan Nabi-Nya ﷺ agar memohon tambahan ilmu. Allah Taʿālā berfirman, “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar berkata, “Ayat ini jelas menunjukkan keutamaan ilmu, karena Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memohon penambahan apa pun selain ilmu.” Nabi ﷺ bahkan menamai majelis-majelis tempat ilmu yang bermanfaat dipelajari sebagai “taman-taman surga”, dan beliau mengabarkan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi.
Tidak diragukan, sebelum seseorang melakukan suatu amal ia harus mengetahui cara melakukannya dengan benar agar amal itu sah dan menghasilkan buah yang diharapkan. Lantas bagaimana mungkin seseorang berani beribadah kepada Rabb-nya—padahal keselamatannya dari neraka dan masuknya ke surga bergantung padanya—tanpa ilmu?
Karena itu, manusia dalam hal ilmu dan amal terbagi menjadi tiga golongan:
- Golongan pertama: mereka yang menggabungkan ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh. Allah telah memberi mereka petunjuk ke jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat jujur, para syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.
- Golongan kedua: mereka yang mempelajari ilmu yang bermanfaat tetapi tidak mengamalkannya; merekalah orang-orang yang dimurkai, yaitu kaum Yahudi dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka.]