al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Bab Penjelasan Hukum Qadha Puasa
…
Bahwa waktu qadha itu lapang; yakni sampai tersisa dari bulan Sya‘ban sejumlah hari yang masih menjadi tanggungannya; maka ia wajib berpuasa pada hari-hari itu sebelum masuk Ramadan yang baru.
Apabila ia menunda qadha hingga datang Ramadan yang baru, maka ia berpuasa Ramadan yang sedang berlangsung, lalu mengqadha puasa yang tertinggal setelahnya. Jika penundaan itu karena uzur yang membuatnya tidak mampu qadha dalam rentang waktu tersebut, maka ia hanya diwajibkan qadha saja. Tetapi apabila penundaan itu tanpa uzur, maka selain qadha ia wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari sebesar setengah shaʿ makanan pokok setempat.
Apabila orang yang masih memiliki kewajiban qadha meninggal sebelum masuk Ramadan yang baru, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya, karena ia mempunyai keleluasaan menunda qadha pada masa ia wafat itu. Namun bila ia meninggal setelah masuk Ramadan yang baru, maka: jika penundaan qadha tadi karena uzur seperti sakit atau safar hingga ia menemui Ramadan yang baru, tetap tidak ada kewajiban apa pun atasnya; tetapi jika penundaan itu tanpa uzur, maka kafarat wajib dikeluarkan dari harta warisannya berupa memberi makan seorang miskin untuk setiap hari.
Apabila orang yang memiliki kewajiban puasa kafarat—seperti kafarat zhihar atau puasa wajib karena dam tamattuʿ dalam haji—meninggal, maka atas namanya diberikan makan seorang miskin untuk setiap hari dan tidak berpuasa menggantikannya. Pemberian makan itu diambil dari harta peninggalannya, karena puasa tersebut pada asalnya tidak menerima perwakilan semasa hidupnya, maka begitu pula sesudah wafat. Inilah pendapat mayoritas ulama.
Dan apabila orang yang mempunyai kewajiban puasa nazar meninggal, maka dianjurkan bagi walinya untuk berpuasa atas namanya; sebagaimana terdapat dalam dua kitab Sahih bahwa seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Sesungguhnya ibuku…"

باب في بيان أحكام القضاء للصيام ... أن وقت القضاء موسع؛ إلى أن يبقى من شعبان إلا قدر الأيام التي عليه؛ فيجب عليه صيامها قبل دخول رمضان الجديد. فإن أخر القضاء حتى أتى عليه رمضان الجديد؛ فإنه يصوم رمضان الحاضر، ويقضي ما عليه بعده، ثم إن تأخيره لعذر لم يتمكن معه من القضاء في تلك الفترة؛ فإنه عليه إلا القضاء، وإن كان لغير عذر؛ وجب عليه مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم نصف صاع من قوت البلد. وإذا مات من عليه القضاء قبل دخول رمضان الجديد؛ فلا شيء عليه؛ لأن له تأخير في تلك الفترة التي مات فيها، وإن مات بعد رمضان الجديد: فإن كان القضاء لعذر كالمرض والسفر وحتى أدركه رمضان الجديد؛ فلا شيء عليه أيضا، وإن تأخيره لغيره عذر؛ وجبت الكفارة في تركته؛ بأن يخرج عنه إطعام مسكين عن كل يوم. وإن مات من عليه صوم كفارة كصوم كفارة الظهار والصوم الواجب عن دم المتعة في الحج؛ فإنه يطعم عنه عن كل يوم مسكينا، ولا يصام عنه، ويكون الإطعام من تركته؛ لأنه صيام لا تدخله النيابة في الحياة، فكذا بعد الموت، وهذا قول أكثر أهل العلم. وإن مات من عليه صوم نذر؛ استحب لوليه أن يصوم عنه؛ لما ثبت في "الصحيحين"؛ أن امرأة جاءت إلى النبي ﷺ، فقالت: إن أمي

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie