al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

Pertama, orang yang berutang untuk orang lain, yaitu orang yang berutang demi memperbaiki hubungan antarpihak; misalnya terjadi perselisihan antara dua kabilah mengenai nyawa atau harta sehingga timbul kebencian dan permusuhan, lalu seseorang tampil sebagai penengah dan menanggung sejumlah uang sebagai ganti rugi agar fitnah padam. Ia telah melakukan kebaikan besar; syariat membolehkan utangnya dilunasi dari harta zakat agar tanggungan itu tidak menggerus hartanya dan untuk mendorong dirinya serta orang lain melakukan amal mulia yang dapat meredam fitnah dan memberantas kerusakan. Bahkan syariat memperbolehkan orang yang berutang seperti ini untuk meminta bantuan guna tujuan tersebut; dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Qabîshah: “Aku menanggung suatu ganti rugi,” maka Nabi ﷺ bersabda, “Tinggallah sampai datang harta sedekah, nanti kami perintahkan agar engkau diberi darinya.”

Kedua, orang yang berutang untuk dirinya sendiri; seperti ketika ia menebus dirinya dari kaum kafir atau ia memiliki utang yang tak sanggup ia bayar. Orang semacam ini diberi bagian zakat sebesar utang yang harus ia lunasi, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “dan orang-orang yang berutang.”

Ketujuh, untuk jalan Allah, yakni memberikan zakat kepada para mujahid sukarelawan yang tidak mendapatkan gaji tetap dari baitul-mal, karena yang dimaksud “jalan Allah” secara mutlak adalah jihad. Allah Ta‘ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya,” dan firman-Nya, “Berperanglah kalian di jalan Allah.”

Kedelapan, ibnussabîl, yaitu musafir yang kehabisan bekal atau kehilangan hartanya di perjalanan; karena “sabil” berarti jalan, maka orang yang terikat dengannya disebut ibnussabîl. Musafir seperti ini diberi zakat sekadar yang mengantarkannya kembali ke negerinya,

أحدهما: غارم لغيره، وهو الغارم لأجل إصلاح ذات البين؛ بأن يقع بين قبيلتين نزاع في دماء أو أموال، ويحدث بسبب ذلك بينهم شحناء وعداوة، فيتوسط الرجل بالصلح بينهما، ويلتزم في ذمته مالاً عوضا عما بينهم؛ ليطفئ الفتنة، فيكون قد عمل معروفا عظيما، من المشروع حمله عنه من الزكاة؛ لئلا تجحف الحمالة بماله، وليكون ذلك تشجيعا له ولغيره على مثل هذا العمل الجليل، الذي يحصل به كف الفتن والقضاء على الفساد، بل لقد أباح الشارع لهذا الغارم المسألة لتحقيق هذا الغرض؛ ففي "صحيح مسلم" عن قبيصة؛ قال: تحملت حمالة، فقال النبي ﷺ: "أقم حتى تأتينا الصدقة فنأمر لك بها". الثاني: الغارم لنفسه؛ كأن يفتدي نفسه من كفار، أو يكون عليه دين لا يقدر على تسديده، فيعطى من الزكاة ما يسدد به دينه؛ لقوله تعالى: ﴿وَالْغَارِمِينَ﴾ . السابع: في سبيل الله؛ بأن يعطى من الزكاة الغزاة المتطوعة الذين لا رواتب لهم من بيت المال؛ لأن المراد بسبيل الله عند الإطلاق الغزو، قال تعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ﴾ ، وقال تعالى: ﴿وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ﴾ . الثامن: ابن السبيل، وهو المسافر المنقطع به سفره بسبب نفاذ ما معه أو ضياعه؛ أن لأن السبيل هو الطريق، فسمي من لزمه ابن السبيل، فيعطى ابن السبيل ما يوصله إلى بلده،

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie