[serta an-Nasā’ī. Hal ini menunjukkan bolehnya perempuan berhias dengan emas dan perak, dan telah menjadi ijma’.
Dan tidak wajib zakat atas perhiasan wanita berupa emas dan perak apabila memang disiapkan untuk dipakai atau dipinjamkan¹, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada zakat pada perhiasan,” riwayat ath-Thabarānī dari Jābir dengan sanad yang lemah; namun hadis ini diperkuat oleh praktik yang berlangsung dan merupakan pendapat sejumlah sahabat, di antaranya Anas, Jābir, Ibnu ‘Umar, ‘Ā’isyah, dan Asmā’ saudara beliau. Ahmad berkata, “Dalam masalah ini ada riwayat dari lima orang sahabat Nabi ﷺ.” Selain itu, perhiasan tersebut telah dialihkan dari aset yang berpotensi berkembang (an-namā’) kepada sesuatu yang mubah, sehingga kedudukannya serupa dengan pakaian kerja, budak pelayan, dan rumah tempat tinggal.
Namun apabila perhiasan tersebut disiapkan untuk disewakan, atau disediakan sebagai biaya hidup—yakni dijadikan cadangan dana—, atau dimaksudkan untuk dimiliki semata, atau untuk ditabung, atau tidak diniatkan untuk salah satu tujuan yang telah disebutkan, maka hukumnya kembali kepada asal: wajib dizakati; sebab emas dan perak pada dasarnya memang wajib dizakati. Kewajiban itu gugur hanya pada perhiasan yang disediakan untuk dipakai atau dipinjamkan, sehingga pada selain dua tujuan tersebut zakat tetap wajib apabila ia mencapai nishab, baik dengan sendirinya maupun setelah digabungkan dengan harta lain,]