[Namun pendapat pertama lebih kuat; Allah yang lebih mengetahui.
Seyogianya dalam khutbah istisqa’ memperbanyak istigfar dan membaca ayat-ayat yang memerintahkan hal itu, karena itulah sebab turunnya hujan. Hendaklah juga memperbanyak doa meminta hujan kepada Allah Ta‘ala sambil mengangkat kedua tangan, sebab Nabi ﷺ mengangkat tangannya ketika berdoa istisqa’ hingga tampak putih ketiaknya. Selain itu, bacalah shalawat kepada Nabi ﷺ karena termasuk sebab terkabulnya doa, dan bacalah doa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ pada kesempatan ini sebagai bentuk meneladaninya. Allah Ta‘ala berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir.”
Disunnahkan pula pada akhir doa menghadap kiblat dan membalik selendang: bagian kanan dipindah ke kiri dan bagian kiri ke kanan. Hal yang sama berlaku untuk pakaian sejenis selendang seperti ‘aba’ah dan semacamnya, berdasarkan hadis dalam Shahihain: “Sesungguhnya Nabi ﷺ memalingkan manusia membelakangi beliau, lalu menghadap kiblat sambil berdoa, kemudian membalik selendangnya…”.
Hikmah dari hal itu—Allah lebih mengetahui—adalah bertafa’ul, yaitu mengharap perubahan keadaan dari kesulitan menjadi kelapangan.]