Disunnahkan bagi khatib untuk duduk di atas mimbar sampai muazin selesai, berdasarkan riwayat Ibnu ‘Umar: “Rasulullah ﷺ, apabila telah naik mimbar, beliau duduk hingga muazin selesai, kemudian berdiri dan berkhutbah,” diriwayatkan oleh Abu Dāwud.
Termasuk sunnah dalam dua khutbah Jumat adalah duduk di antara keduanya, sebagaimana hadis Ibnu ‘Umar: “Nabi ﷺ menyampaikan dua khutbah dalam keadaan berdiri dan memisahkan keduanya dengan duduk,” muttafaqun ‘alaih.
Di antara sunnah lainnya, khatib menyampaikan khutbah dalam keadaan berdiri, karena Rasul ﷺ melakukannya, juga firman Allah: “dan mereka meninggalkanmu dalam keadaan berdiri,” serta inilah praktik kaum muslimin.
Disunnahkan pula bersandar pada tongkat atau sesuatu yang semisalnya.
Khatib juga disunnahkan menghadap lurus ke depan; demikianlah yang dilakukan Nabi ﷺ. Menoleh ke salah satu sisi berarti berpaling dari sisi lainnya dan menyelisihi sunnah, sebab beliau ﷺ ketika berkhutbah selalu menghadap lurus ke depan, dan para jamaah menghadap beliau dengan wajah mereka. Ibnu Mas‘ud raḍiyallāhu ‘anhu berkata, “Apabila beliau telah tegak di atas mimbar, kami pun menghadap beliau dengan wajah kami,” diriwayatkan oleh at-Tirmiżī.
Disunnahkan agar khutbah dipersingkat secara proporsional: tidak terlalu panjang hingga membuat pendengar bosan dan berpaling, namun juga tidak terlalu singkat hingga mereka tidak mendapat manfaat. Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Ammār, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Panjangnya salat seseorang dan singkatnya khutbahnya merupakan tanda kefaqihannya; karena itu perpanjanglah salat dan singkatkanlah khutbah.” Makna “tanda kefaqihannya” ialah isyarat atas pemahaman agamanya.