khotbah dengan permainan rima, ungkapan-ungkapan kering, dan seni retorika hias; akibatnya bagian hati dari khutbah itu berkurang, bahkan lenyap sama sekali, dan maksud utamanya pun meleset.”
Itulah yang dikatakan Imam Ibnu al-Qayyim tentang corak khutbah pada masanya. Keadaan sekarang bahkan lebih parah daripada yang beliau lukiskan, sehingga kebanyakan khutbah hari ini hanyalah tumpukan kata-kata yang sedikit faedahnya.
Sebagian—atau bahkan banyak—khatib menjadikan khutbah seolah-olah tugas karangan sekolah: mereka menumpahkan apa saja yang telah disiapkan, tepat ataupun tidak pada tempatnya, lalu memanjangkan khutbah dengan panjang yang menjemukan. Akibatnya sebagian dari mereka mengabaikan syarat-syarat khutbah—atau sebagian darinya—dan tidak terikat dengan ketentuan syar‘i; maka khutbah pun turun ke taraf yang tak lagi sanggup memberi pengaruh, menggugah, dan memberi manfaat.
Ada pula khatib yang memasukkan ke dalam khutbah tema-tema yang tidak selaras dengan pokoknya; tidaklah bijak menyebutkannya dalam majelis ini, dan kebanyakan jamaah pun tidak memahaminya karena berada di atas tingkat mereka. Mereka menyusupkan isu-isu persuratkabaran, kondisi politik, dan laporan peristiwa yang tidak memberi manfaat bagi hadirin.
Maka wahai para khatib! Kembalikanlah khutbah kepada tuntunan Nabi—“Sungguh pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kalian”—fokuskan isinya pada nash Al-Qur’an dan Sunnah yang sesuai dengan keadaan, sisipkanlah wasiat takwa kepada Allah dan nasihat yang baik, obatilah penyakit masyarakat kalian dengannya dengan gaya yang jelas dan ringkas, dan perbanyaklah pembacaan Al-Qur’an yang agung di dalamnya; karena dialah yang menghidupkan hati dan menerangi mata batin.