al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Dan jika ia mau, ia boleh salat enam rakaat; berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar: “Apabila Nabi ﷺ telah menunaikan salat Jumat, beliau maju lalu salat dua rakaat, kemudian maju lagi lalu salat empat rakaat.”

Hak atas suatu tempat di masjid menjadi milik orang yang lebih dulu hadir dengan dirinya sendiri. Adapun kebiasaan sebagian orang yang ‘memesan’ tempat di masjid—dengan meletakkan sajadah, tongkat, atau sandal lalu mereka sendiri datang belakangan sehingga orang yang lebih dahulu tiba terhalang menempatinya—maka perbuatan itu tidak dibenarkan. Bahkan sebagian ulama menegaskan bahwa orang yang datang boleh mengangkat benda-benda tersebut dan salat di sana; karena yang datang terlebih dahulu berhak menempati saf pertama, sedangkan menandai tempat di masjid tanpa kehadiran pemiliknya merupakan perampasan tempat.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah ﵀ berkata: “Adapun perbuatan banyak orang yang mendahulukan alas dan semacamnya ke masjid pada hari Jumat sebelum mereka sendiri datang untuk salat, maka hal itu dilarang dengan kesepakatan kaum muslimin, bahkan hukumnya haram.

Apakah salat di atas alas yang demikian sah? Terdapat dua pendapat ulama, karena orang tersebut telah merampas sebagian tempat di masjid dengan membentangkan alas itu, lalu menghalangi orang-orang yang lebih dulu datang untuk salat di tempat tersebut. Padahal yang diperintahkan adalah agar seseorang mendahului ke masjid dengan dirinya sendiri. Maka apabila ia mendahulukan alasnya namun ia sendiri datang belakangan, berarti ia menyalahi syariat dari dua sisi: pertama, ia terlambat padahal diperintahkan untuk datang lebih awal; kedua, ia merampas sebagian masjid dan menghalangi orang yang lebih dahulu agar mereka tidak dapat menyempurnakan saf, barisan demi barisan. Selain itu, ketika ia akhirnya datang, ia akan melangkahi pundak-pundak orang.”]

وإن شاء صلى ست ركعات؛ لقول ابن عمر: "كان النبي ﷺ إذا صلى الجمعة؛ تقدم فصلى ركعتين، ثم يقدم فصلى أربعا". والأحقية في المكان في المسجد للسابق بالحضور بنفسه، وأما ما يفعله الناس من حجز مكان في المسجد، توضع سجادة أو عصا أو نعلان، ويتأخر هو عن الحضور، ويحرم المتقدم من ذلك المكان؛ فإن ذلك عمل غير سائغ، بل صرح بعض العلماء أم لمن أتى المسجد رفع ما وضع ذلك المكان والصلاة فيه؛ لأن السابق يستحق الصلاة في الصف الأول، ولأن وضع الحمى للمكان في المسجد دون حضور من الشخص اغتصاب للمكان. قال شيخ الإسلام ابن تيمية ﵀: "وأما ما يفعله كثير من الناس من تقدم مفارش ونحوها إلى المسجد يوم الجمعة قبل صلاتهم؛ فهذا منهي عنه باتفاق المسلمين، بل محرم، وهل تصح صلاة على ذلك المفرش؟ فيه قولان للعلماء؛ لأنه غصب بقعة في المسجد بفرش ذلك المفروش فيها، ومنع غيره من المصلين الذين يسبقونه إلى المسجد أن يصلي في المكان، والمأمور به أن يسبق الرجل بنفسه إلى المسجد، فإذا قدم المفروش ونحوه وتأخر هو؛ فقد خالف الشريعة من جهتين: من جهة تأخره وهو مأمور بالتقدم، ومن جهة غصبه لطائفة من المسجد ومنعه السابقين له، وأن يتموا الصف الأول فالأول، ثم إنه يتخطى رقاب الناس إذا حضروا" اهـ.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie