al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Ini adalah bentuk ketidaktahuan atau sikap meremehkan; salat wajib ditunaikan pada waktunya sesuai kemampuan dan tidak boleh ditunda melewati waktunya. Hal ini harus diperhatikan dan diingatkan, dan di rumah sakit hendaknya ada penyuluhan agama serta pemantauan keadaan para pasien berkaitan dengan salat dan kewajiban syar‘i lain yang perlu dijelaskan kepada mereka.

Penjelasan di atas berlaku bagi orang yang memulai salat dalam keadaan uzur dan uzurnya terus berlanjut sampai ia selesai. Adapun orang yang memulai salat dalam keadaan mampu berdiri lalu di tengah salat tidak mampu lagi, atau memulai salat tidak mampu berdiri lalu di pertengahan menjadi mampu, atau memulai salat sambil duduk lalu di tengah salat tak sanggup lagi duduk, atau memulai salat berbaring miring lalu kemudian mampu duduk, maka pada setiap keadaan tersebut ia wajib berpindah ke posisi yang sesuai syariat dan menyempurnakan salatnya pada posisi itu, berdasarkan firman Allah Taʿala: “Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” Maka orang yang kemudian mampu berdiri berpindah ke posisi berdiri, dan orang yang tidak mampu berdiri di tengah salat berpindah ke posisi duduk, dan seterusnya.

Apabila ia sanggup berdiri dan duduk tetapi tidak mampu rukuk dan sujud, ia memberi isyarat dengan kepalanya untuk rukuk dalam keadaan berdiri, dan memberi isyarat untuk sujud dalam keadaan duduk, sehingga perbedaan di antara kedua isyarat itu tetap tampak sesuai kemampuan.

Seorang pasien juga boleh salat sambil terlentang padahal ia masih sanggup berdiri apabila seorang dokter muslim tepercaya berkata kepadanya, “Pengobatanmu tidak mungkin dilakukan kecuali engkau salat sambil terlentang, karena…]

وهذا جهل منهم أو تساهل؛ فالصلاة تصلي في وقتها حسب الإمكان، ولا يجوز تأخيرها عن وقتها؛ فينبغي الانتباه لهذا، والتنبيه عليه، ويجب أن يكون في المستشفيات توعية دينية، وتفقد لأحوال المرضى من ناحية الصلاة وغيرها من الواجبات الشرعية التي هم بحاجة إلى بيانها. وما سبق بيانه هو في حق من ابتدأ الصلاة معذورًا، واستمر به العذر إلى الفراغ منها، وأما من ابتدأها وهو يقدر على القيام، ثم طرأ عليه العجز عنه، أو ابتدأها وهو لا يستطيع القيام، ثم قدر عليه في أثنائها، أو ابتدأها قاعدًا، ثم عجز عن القعود أثنائها، أو ابتدأها على جنب، ثم قدر على القعود، فإنه في تلك الأحوال ينتقل إلى الحالة المناسبة له شرعا، ويتمها عليها وجوبا؛ لقوله تعالى: ﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم﴾ ، فينتقل إلى القيام من قدر عليه، وينتقل إلى الجلوس من عجز عن القيام في أثناء الصلاة ... وهكذا. وإن قدر على القيام والقعود، ولم يقدر على الركوع والسجود؛ فإنه يوميء برأسه بالركوع قائما، ويومئ بالسجود قاعدًا؛ ليحصل الفرق بين الإيماءين حسب الإمكان. وللمريض أن يصلي مستلقيا مع قدرته على القيام إذا قال له طبيب مسلم ثقة: لا يمكن مداواتك إلا إذا صليت مستلقيا؛ لأن

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie