al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

ia mengulangi salatnya, sedangkan salat jamaah tetap sah.”

Syekh al-Islām Ibnu Taimiyyah berkata, “Demikianlah yang menjadi sunah para khalifah ar-Rāsyidīn; mereka pernah memimpin orang-orang salat, lalu setelah selesai baru menyadari bahwa mereka berada dalam keadaan junub, maka mereka mengulang salatnya, namun tidak memerintahkan jamaah untuk mengulang. Adapun bila imam atau makmum mengetahui adanya hadas atau najis di tengah salat, salat keduanya batal.”¹

Tidak sah pula menjadi imam orang yang ‘ummi’. Yang dimaksud di sini ialah orang yang tidak menghafal Surah al-Fātiḥah, atau menghafalnya tetapi tidak mampu membacanya dengan baik hingga mengubah makna—misalnya memecahkan kâf pada (وَإِيَّاكَ), men-ḍammah-kan tāʾ pada (أَنْعَمْتَ), men-faṭḥah-kan hamzah pada (اهْدِنَا)—atau orang yang menukar satu huruf dengan huruf lain karena gagap, seperti mengganti rāʾ dengan ghain atau lām, atau sīn dengan tāʾ, dan semisalnya. Orang semacam itu tidak sah mengimami kecuali jamaah yang sama-sama ‘ummi’, karena mereka setara dan sama-sama tidak mampu memperbaiki bacaannya. Namun bila ia sebenarnya mampu memperbaiki bacaan kemudian tetap tidak melakukannya, maka salatnya sendiri batal dan batal pula salat orang yang mengikutinya, karena ia meninggalkan kewajiban padahal mampu.

Dimakruhkan seorang lelaki mengimami suatu kaum sementara kebanyakan mereka membencinya dengan alasan yang benar—yakni kebencian yang didasarkan pada kekurangan agamanya—berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Ada tiga golongan yang salat mereka…"

1. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat para makmum tidak batal, dan bahwa imam dalam keadaan seperti ini menunjuk seorang pengganti untuk menyempurnakan shalat bersama mereka.
وتمت للقوم صلاتهم". قال شيخ الإسلام ابن تيمية: "وبذلك مضت سنة الخلفاء الراشدين؛ فإنهم صلوا بالناس، ثم رأوا الجنابة بعد الصلاة، فأعادوا، ولم يأمروا الناس بالإعادة، وإن علم الإمام أو المأموم بالحدث أو النجاسة في أثناء الصلاة؛ بطلت صلاتهم"١ ولا تصح إمامة الأمي، والمراد به هنا من لا يحفظ سورة الفاتحة أو يحفظها ولكن لا يحسن قراءتها؛ كأن يلحن فيها لحنا يحيل المعنى؛ ككسر كاف ﴿وَإِيَّاكَ﴾ ، وضم تاء ﴿أَنْعَمْتَ﴾ ، وفتح همزة ﴿اهْدِنَا﴾ ، أو يبدل حرفا بغيره، وهو الألثغ، كمن يبدل الراء غينا أو لاما، أوالسين تاء ... ونحو ذلك؛ فلا تصح إمامة الأمي إلا بأمي بمثله؛ لتساويهما، إذا كانوا عاجزين عن إصلاحهن فإن قدر الأمي على الإصلاح لقراءته؛ لم تصح صلاته ولا صلاة من صلى خلفه؛ لأنه ترك مع القدرة عليه. ويكره أن يؤم الرجل قوما أكثرهم يكرهه بحق؛ بأن تكون كراهتهم لها مبرر من نقص في دينه؛ لقوله ﷺ: "ثلاثة لا تجاوز صلاتهم
١ وبعض العلماء يرى أن صلاة المأمومين لا تبطل، وأن الإمام في هذه الحالة يستخلف من يكمل الصلاة بهم.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie